(FanFict) Onew: TIME MACHINE

Published 30/06/2012 by askarein

Annyeong!!!

Membawa FF kedua yang di post ke Yeppopo~~
FF pertama yaitu -Ours- tau gak?! hahahaha kalau gak tau, wajib baca tuh nanti. search yaaaa #maksaabis#
Sebelum nya, untuk menghindari di tuduh plagiat atau apa…. FF INI SEBELUM NYA UDAH PERNAH DIPOST DI SALAH SATU FANPAGE MILIK PENULIS SENDIRI DI FB.
Kamshamnida untuk para eonnie yeppopo yang udah ngepost FF dari saya!
Langsung ajah!!
Oh ya Mianhe kalau banyak typo (><)

#####

_HAPPY READING_

######

~TIME MACHINE~
 

  Author: Dewi Ayu Swastika as Choi Minra
Main Cast :  Yura Horvejkul
                         Lee Jin Ki a.k Onew
 
****** 

Jika aku mempunyai sebuah mesin waktu…
Aku ingin kembali kemasa dulu…
Masa dimana aku menemukan mu…
Masa dimana cinta ku tumbuh karena mu…
Apa aku terlambat untuk mengatakannya?
Mengatakan pada mu..
Bahwa aku “Mencintai mu”..
******
Sesosok lelaki nampak berjalan tegap keluar dari bandara Incheon kala itu. Wajah nya yang kusut dan lelah tergambar cukup jelas disana. Hembusan nafas berat berkali-kali ia lakukan. Ia terlalu lelah. Ia terlalu lelah menjalani jadwal padat menjadi sesosok penyanyi terkenal sekarang.
“sore ini ada jadwal di salah satu panggung teater Busan” suara Manager yang berada tepat disamping nya tampak menyeruak.
Lelaki itu nampak bersungut dalam hati. Ia terlalu lelah. Ia ingin beristirahat sekarang. “batalkan. Batalkan semua jadwal hari ini.. aku ingin beristirahat” balas lelaki itu terdengar kaku. Sebelum ia benar-benar berjalan mendahului manager dari nya yang hanya bisa terbengong karena ulah nya.
“yaampun Lee Jin Ki!! Kau membuat ku benar-benar sengsara”  keluh manager tersebut menatap punggung lelaki itu yang berjalan menjauh dari nya.
****
Lelaki itu tampak berusaha menutup mata nya. Ia harus tidur hari ini sebelum ia benar-benar kembali memulai aktivitas yang sibuk seperti hari biasa. Di pejam kan nya mata nya itu. Tapi nihil! Ia tak bisa.
“arghhh..” teriak nya frustasi. Bangun dari tidur nya dan mengacak pelan rambut jamur nya tersebut.
“ayolah Lee Jin Ki! Kau butuh tidur sebelum kau benar-benar menjadi mumi berjalan nanti nya” ucap nya pada diri sendiri.
Di hembuskan nya nafas nya yang berat tersebut. Menatap lekat seisi ruang kamar apartemen milik nya. Diambil dengan kasar ponsel nya yang tak jauh bertengger. Apa yang harus ia lakukan sekarang?!. Menelpon manager nya kah? Mengatakan pada Nunna tersebut bahwa ia tak bisa tidur? Oh yang benar saja!! Bisa-bisa ia di bunuh oleh yeoja  yang memang sudah ia anggap Nunna nya sendiri.
“mungkin dengan meminum segelas air dapat membantu mu Lee Jin Ki”
Dengan gerakan cepat, lelaki itu nampak membuka mata nya yang berusaha ia tutup. Terdiam kaku mendengar dengan jelas kalimat yang menyeruak. Ia tampak bangun tergesa. Merasakan denyut jantung nya yang semakin cepat. Menatap seisi ruangan tapi tak menemukan siapa-siapa disana. Tak ada orang.
Oh tuhan… apa ia sudah gila?! Suara itu.. suara yang sangat familiar oleh nya. Suara yang mungkin sudah  jauh terpendam di relung hati nya kini. Suara yang baru ia sadari bahwa suara itu  bagai mengikuti nya kemana pun ia berjalan.
“yaampun apa yang kupikirkan” ungkap nya tertawa masam. Tidak mungkin batin nya kembali menyeru menyakinkan.
Di baringkan nya dengan pelan badan nya tersebut. Menutup perlahan mata nya. Ia butuh tidur sekarang.
****
“Ya ondubu!! Ayo bangun.. kru dan aku berniat akan makan malam. Kau harus ikut” suara manager lelaki tersebut tampak menggema keseluruh ruang. Membuat mata lelaki itu terbuka perlahan.
“Nunna.. aku lelah” ungkap lelaki itu lebih merapat kan selimut nya.
“hey..hey.. kau ini jangan semau mu seperti itu.. setidak nya kau harus menghargai aku dan para kru yang sudah bekerja keras selama ini. cepatlah ganti baju!” perintah manager tersebut dan segera berlalu.
“aku dan para kru menunggu di bawah! Cepatlah” pesan Nunna tersebut sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu apartemen lelaki itu.
Hembusan nafas berat dari lelaki itu terdengar jelas. Semaumu? Yang benar saja?! Batin lelaki itu menyeru kesal.
Ia nampak bangun dari tempat tidur nya tersebut. Berjalan pelan menuju kamar mandi. Setidak nya ia tak ingin terlihat pucat dan lelah di acara makan malam tersebut.
****
“bersulang” ucap beberapa orang disana. Termasuk lelaki itu.
“terima kasih untuk kalian yang selama ini selalu membantu ku.. aku tidak tau apa yang akan terjadi jika tak ada kalian..” ucap Lee Jin Ki menyampaikan sepatah kata untuk beberapa orang disana.
Mereka nampak bertepuk tangan. Dan memulai acara makan malam tersebut. Tapi tidak dengan Lee Jin Ki.
Lelaki itu lebih memilih diam. Menatap lekat telepon genggam nya itu. Ia masih ingat jelas bagaimana suara itu seakan menembus dunia nyata nya kembali. Suara itu bagai tergiang jelas di relung hati nya kini. Dan jika ia boleh jujur, ia ingin mendengar dan memastikan kembali suara itu.
Ia tampak berdiri dari duduk nya. Meminta izin sebentar bahwa ia akan pergi kebelakang. Tak lama. Langkah nya nampak mulai berjalan. Berjalan kearah beranda resto tersebut.
Lelaki itu menarik nafas. Menghembuskan nya perlahan. Tangan nya dengan pelan mulai mencari-cari nomor di ponsel nya itu. Jari nya nampak berhenti mencari saat sebuah nomor terpampang jelas disana.
Masih aktif kah? Batin nya bertanya pada diri sendiri. Kau bisa Lee Jin Ki.
Sebuah tarikan nafas kembali ia lakukan. Kali ini dengan sebuah denyut jantung yang tak karuan. Kenapa ia sungguh takut dan gugup?! Bukankah ia hanya perlu menekan nomro tersebut dan memastikan apakah nomor itu masih aktif?!
Tangan nya dengan gerakan cepat nampak menekan tombol yes. Melekat kan ponsel tersebut tepat di telinganya. Jantung nya kembali jauh lebih cepat. Deringan pertama berbunyi. Pertanda bahwa nomor itu masih aktif. Lelaki itu nampak berdiri kaku. Seakan lupa bahwa seharus nya ia hanya memastikan bahwa nomor itu masih aktif.
Deringan kedua kembali berbunyi. Deringan ketiga dan diangkat!
“yeobseyo?” suara di ujung sana menyapa jelas.
Lee Jin Ki seakan menjadi patung saat suara di ujung sana menyapa nya. Menghipnotis diri nya untuk tetap diam disana tanpa menjawab. Bibir nya benar-benar kaku. Suara itu.. suara itu kembali menyeruak detik ini. Suara yang benar bahwa ia merindukan nya.
“yeobseyo?” kembali suara itu bertanya pada nya. Membuat lelaki itu sadar dan menggeleng pelan. Dan dengan gerakan cepat mematikan sambungan diantara kedua nya.
Keringat dingin nampak mengucur. Membuat nya harus duduk sekarang untuk mengambil nafas dalam. Yaampun.. apa yang kau lakukan Lee Jin Ki?! Kau begitu bodoh!! Rutuk lelaki itu dalam hati. Mengalihkan pandangan nya kini keatas. Menatap dengan jelas sudut langit malam Seoul.
“suara itu masih sama” ucap nya pelan.
*****
“mwo?” gadis itu nampak menatap bingung ponsel nya kini. Membuat teman di samping nya menatap aneh.
“waeyo Yura-ah?”
Pandangan gadis itu nampak teralih kepada teman disamping nya kini. Menggeleng bingung seakan juga tak tau.
“molla! Ada nomor baru yang menelpon ku.. saat ku tanya tapi tak ada jawaban maupun suara di ujung sana.. aneh” balas gadis itu menatap.
“paling orang iseng.. baiklah kita lanjutkan tugas skripsi yang tertunda”
Gadis itu mengangguk setuju. Mengalihkan pandangan nya kali ini kearah Laptop. Tapi tidak pikiran nya. Benarkah orang iseng?! Kenapa ia sangat berharap bahwa itu bukan orang iseng?! Ia berharap seorang yang entah masih mengingat diri nya atau tidak,  kembali muncul di hidup nya kini.
*****
“Pagi ini ada acara pemotretan di 3 tempat. Di lanjutkan acara menyanyi mu di 4 tempat dan malam nya menghadiri konser amal bersama para penyanyi lain” ungkap manager tersebut seakan memastikan di PC tablet nya tersebut. Pandangan nya menatap lelaki didepan nya yang kini tengah sibuk dengan ponsel nya tersebut.
“ya ondubu.. kau dengar tidak?” ucap Nunna tersebut sedikit berteriak. Membuat Lee Jin Ki menatap kaget.
“mwoya?”
Sebuah helaan nafas dari manager tersebut menyeruak. Menatap kesal lelaki yang lebih muda didepan nya kini. “ayo segera bersiap! Ada pemotretan di 3 tempat pagi ini” perintah Nunna tersebut berlalu.
*****
Gadis itu nampak duduk di salah satu bangku kayu kampus tersebut. Menatap lekat ponsel nya tersebut. Sebuah helaan nafas tampak ia hembuskan. Ia selalu menunggu. Menunggu sebuah telpon dari seorang di ujung sana.
Seorang yang sampai saat ini tak bisa ia benci dan tak bisa ia lupakan. Ia terlalu mencintai lelaki itu. “apa kau sudah melupakan ku?” ucap nya pelan.
Di genggam nya ponsel nya tersebut. “yaampun tidak mungkin ia akan menelpon Yura.. ia terlalu sibuk untuk melakukan hal tidak penting seperti itu..” ungkap gadis itu tertawa masam. Merasakan pelupuk mata nya kini tampak menggenang.
“itu sudah 4 tahun yang lalu.. sudah terlalu lama untuk ia bisa mengingat mu” lanjut nya dengan suara parau.
Sebuah helaan berat nampak terpampang jelas. Menunduk dalam merasakan kebodohan nya selama ini. Ia tak akan kembali untuk mu Yura.
*****
“aku ingin istirahat” ungkap Lee Jin Ki berjalan menjauh. Berjalan pelan ke backstage nya kini di ikuti sang manager.
“Ya ondubu!! Jadwal terakhir kau harus menghadiri konser amal.. kenapa kau malah istirahat hah?”
“Nunna.. batalkan saja jadwal itu dan suruh semua kru untuk bergegas pulang. Aku lelah” sebuah dengusan dari sesosok yeoja itu tampak terdengar jelas.
“kau ini kenapa selalu semau mu? Aku tak akan ikut campur kalau wartawan menanyakan ketidakhadiran mu di konser amal malam ini Lee Jin Ki!” Gadis itu berjalan menjauh. Merasa sungguh kesal dengan sikap sesosok lelaki yang bernotabane artis tersebut.
Lee Jin Ki hanya menggeleng pelan. Semau mu kata nya?! Batin lelaki itu menyeru sedikit kesal.
 Menghempaskan kasar diri nya kini tepat disalah satu sofa. Dengan pelan ia berusaha menutup mata. Tapi nihil! Satu masalah masih sangat jelas mengganjal pikiran nya kali ini.Diambil nya ponsel nya tersebut. Mencari sebuah nomor disana. lelaki itu tampak menyunggingkan sebuah senyum tipis dan juga kecut. Menatap lekat nomor-nomor tersebut.  Apa yang harus kulakukan sekarang?! Batin nya menyeru.
Seakan sebuah pita hitam sebuah film pendek,  Pikiran nya nampak melayang jauh. Mengingat kesalahan apa yang membuat nya menjadi seperti ini. Sebuah masalah yang satu hari ini benar-benar mengusik pikiran nya. Sebuah masalah yang sampai saat ini belum ia tuntas kan. Ia terlalu takut. Takut pada perasaan nya yang tak bisa menggapai gadis itu.
*****
 
~Flashback~
“Lee Jin Ki! Apa kau tidak menemui Yura?” suara sesosok kawan dari Lelaki itu menyapa. Menghampiri sesosok Lee Jin Ki yang tengah sibuk dengan koper-koper besar di sudut ruang.
Wajah lelaki itu menadah. Menatap jelas sesosok kawan di hadapan nya kini. “jam keberangkatan ku dan juga acara ku menemui Yura bertabrakan.. Omma sungguh cereboh mengatur nya”
“jadi apa yang akan kau lakukan?” kegiatan lelaki itu kembali terhenti. Diam sejenak menatap kawan nya tersebut seakan tau bahwa jawaban apa yang akan ia berikan.
“bagaimana dengan Yura? Setidak nya kau bisa mengatakan perasaan mu sebelum kau benar-benar pergi..” saran kawan lelaki itu.
Lee Jin Ki menggeleng pelan. “percuma.. aku tak ingin melihat nya menangis”
“itu jauh lebih membuat nya sedih” balas kawan Lee Jin Ki sedikit menyela.
Koper-koper itu tampak ditutup. Di kunci rapat oleh lelaki itu. “tenanglah.. aku akan kembali pada nya. Kau tidak usah khawatir! Nanti aku akan menelpon nya jika aku sudah tiba di bandara” balas Lee Jin Ki menarik koper-koper itu menjauh.
“Ya Lee Jin Ki.. kau ini kenapa selalu semau mu hah?” ucap kawan lelaki itu nampak menyusul. Menggeleng-geleng heran melihat tingkah sesosok sahabat nya Lee Jin Ki.
#####
“mwoya?” bibir gadis itu tercekat. Berdiri cepat dari duduk nya. Jantung nya mendadak berdenyut kuat. Tak ada satupun kata yang bisa ia ungkap kan atau ia jawab.
“kau tidak usah se-kaget itu.. aku akan kembali beberapa tahun lagi ke Seoul. Ok?! Tenanglah aku akan menelpon pun setiap saat untuk memberi kabar. Oh seperti nya pesawat ku sudah tiba.. Bye Yura”
Gadis itu ingin menjawab lebih jauh. Menyerbu sang penelpon dengan banyak pertanyaan. Tapi sambungan di antara kedua nya mati. Digenggam nya dengan erat ponsel nya tersebut. Air mata nya tampak menggenang tak percaya. Tapi dengan gerakan cepat gadis itu menghapus nya.
Yaampun.. apa yang kau tangisi Yura?! Dia bukan siapa-siapa mu! Dia hanya sesosok teman yang tengah dekat dengan mu. Kenapa kau menangisi kepergian nya seakan ia adalah pacar mu?! Apa kau gila?!
Sudut bibir gadis itu tertarik. Menampilkan sebuah senyum masam disana. “dia pasti akan kembali dan segera menelpon mu Yura. Kau harus percaya itu” ucap gadis itu pada diri sendiri. Seakan ia tengah menyemangati seorang. Menyemangati diri nya.
~Flashback OFF~
*****
Kenapa kau selalu semau mu Lee Jin Ki?!
Pikiran lelaki itu kembali melayang. Tergiang jelas beberapa kalimat yang selalu seorang disana utara kan. Dia rindu suara itu. Ia rindu wajah itu. Ia rindu segala sesuatu dari seorang disana. Apa dulu ia terlalu bodoh untuk mengambil sebuah keputusan dan pergi begitu saja?! Ia terlalu egois. 4 tahun sudah berlalu. Apa gadis itu masih ingin menerima nya sebagai sesosok lebih dari teman?!
Di hembuskan nya nafas nya yang berat tersebut. Merasakan kepala nya yang sungguh berdenyut lelah. Ia terlalu lelah untuk memikirkan segala nya.
Yura Horvejkul.
Sebuah nama yang mampu membuat nya risau akhir-akhir ini. ia sudah tiba di Seoul. Nomor itu masih aktif. Apa lagi yang ia tunggu?! Ketakutan akan kesalahan dimasa lalu saat ia meninggal kan gadis itu?! Ya… ia terlalu takut sekarang.
Apa ia terlambat untuk mengakui semua nya?!
“annyeong Yura!! Apa kau menunggu lama?” kepala lelaki itu berputar cepat. Mencari sebuah suara yang ia tangkap dengan jelas. Jantung nya mendadak berdenyut cepat. Merasakan keringat dingin yang mengucur disana.
Mata lelaki itu sukses membulat. Kaku dengan apa yang ia lihat sekarang. Yura?!
Gadis itu duduk sedikit  jauh dari tempat nya kini. Setidak nya banyak yang tidak mengenal lelaki itu sebagai Lee Jin Ki. Jelas saja! Ia memakai pakaian biasa dengan sebuah topi dan kacamata hitam yang menutup wajah nya. Tak ada yang menyadari bahwa lelaki itu Lee Jin Ki! Sesosok penyanyi terkenal Korea.
Gadis itu pun juga pasti tak tau bahwa diri nya merupakan Lee Jin Ki.
“Yura..” gumam lelaki itu pelan. Dua bola mata nya di balik kacamata hitam itu menatap jelas. Seakan tak ingin bergeming atau pun teralih pada sesosok gadis yang tengah sibuk berkutat dengan laptop nya tersebut.
Apa yang harus namja itu lakukan?! Memastikan nya kah?! Tapi tidak mungkin jika ia harus berjalan kesana dan mengatakan bahwa ia Lee Jin Ki sang teman lama. Bisa-bisa cafe ini menjadi tempat jumpa fans akibat diri nya sendiri.
Mata lelaki itu masih belum teralih. Ia harus benar-benar memastikan bahwa di sudut sana adalah sesosok Yura. Yura Horvejkul. Sesosok gadis yang mampu membuat nya yakin bahwa ia benar-benar bodoh karena meninggalkan gadis itu.
Di ambil ponsel nya itu. Mencari sebuah nomor disana. Jari nya berhenti mencari saat nomor yang ia cari telah ia dapatkan. Masih dengan sedikit keraguan apakah ia harus menelpon atau tidak. Tapi dengan satu langkah ia menelpon tombol yes dan segera menyambungkan sambungan pada pemilik nomor tersebut.
Mata di balik kacamata hitam besar itu masih menatap lekat. Seakan tengah memastikan apakah benar gadis itu Yura. Deringan pertama berbunyi… deringan kedua pun sama. Dan Yap! Deringan ketiga pun diangkat.
“yeobseyo?” Lee Jin Ki terduduk kaku. Itu memang Yura! Batin nya berseru.
Dapat ia lihat dengan sungguh jelas, gadis itu tampak sibuk dengan ponsel nya. Mengatakan sebuah kalimat halo disana.
Lee Jin Ki nampak menggeleng pelan. Apa yang baru ia lakukan?! Yaampun…
“Yeobseyo?” lagi. Suara gadis di ujung sana kembali menyahut. Dengan langkah sigap. Lelaki itu segera memutuskan telpon. Kepala nya tampak terputar kearah gadis di ujung sana. Sebuah senyum tipis tampak tertarik di kedua bibir nya.
“akhir nya aku menemukan mu” gumam nya pelan.
*****
Gadis itu tampak menjauh kan ponsel nya tersebut. Menatap aneh telpon genggam milik nya. Teman disamping gadis itu menatap bingung. “waeyo Yura-Ah?”
Pandangan gadis itu teralih. Menatap dengan sebuah senyum tipis. “aku tak tau.. nomor itu kembali menelpon ku! Dan seperti biasa, tak ada suara di ujung sana..” balas gadis itu. Menyeruput minuman milik nya dan kembali fokus dengan laptop di hadapan nya itu.
“jangan di pikirkan.. mungkin hanya orang iseng”
Gadis itu mengangguk-ngangguk setuju. “ne kau benar”
*****
Jika aku mampu mengendarai sebuah Mesin waktu saat ini
Dan pergi menemui mu
Aku mungkin tak akan berharap  yang lain
Sebelum waktu saat ini benar-benar berlalu dan hanya menjadi sebuah kenangan yang sia-sia
Aku ingin mengatakan pada mu..
Mengatakan sebuah kata yang saat itu tertunda karena kebodohan dan kesalahan ku
Bahwa.. “Aku mencintai mu”
######
Gadis itu nampak duduk termenung. Menggenggam erat ponsel milik nya seakan tengah menunggu telpon masuk. Yah.. ia menunggu sebuah telpon. Sebuah telpon dari seorang disana. Seorang yang pergi dan meninggalkan  diri nya 4 tahun lalu. Seorang yang telah berjanji pada nya bahwa ia akan segera menelpon.
Sebuah helaan nafas berat tampak mengalun. Merasakan ujung pelupuk mata milik nya nampak menggenang. Lee Jin Ki. Ia hanya bisa memandang lelaki itu jauh di layar TV. Lelaki itu tak pernah mengatakan pada diri nya bahwa lelaki itu akan menjadi artis terkenal. Apa benar lelaki itu telah melupakan nya?!
“mungkin aku yang terlalu bodoh menunggu mu dengan banyak harapan” gumam gadis itu parau. Mengelap dengan cepat ujung pelupuk mata nya itu.
“Yura-Ah…” kepala gadis itu terangkat. Berusaha tersenyum pada sesosok gadis yang berbeda 3 tahun dengan diri nya kini. Eonnie nya.
“ne?”
“Kenapa memilih termenung disini? kau menakuti Eonnie mu..” ungkap gadis itu duduk tepat di samping Yura.
Yura hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Eonnie nya itu. “ah mianhe eonnie”
“hey.. bersiaplah! Apa kau lupa bahwa sebentar malam kau harus menemui kenalan ayah dan ibu?”
Gadis itu menghela nafas berat. “aku tak ingin di jodohkan Eonnie.. setidak nya Eonnie bisa mengatakan hal ini pada ayah dan ibu.. aku sudah capek berdebat dengan mereka”
“apa kau masih menunggu Lee Jin Ki? Huft… yang benar saja kau masih menantikan penyanyi terkenal itu yang hanya semau nya saja” ungkap gadis itu menatap Yura.
“Eonnie tidak mengerti” ucap Yura pelan.
Eonnie Yura nampak menatap Saeng nya itu. Menggeleng pelan melihat tingkah gadis dihadapan nya kini. “Ya eonnie memang tidak mengerti tapi sampai kapan kau terus menunggu lelaki yang pergi begitu saja dari hadapan mu 4 tahun lalu.. sampai saat ini pun ia tak pernah menelpon kan?!”
“Eonnie” tegas Yura menatap gadis itu.
“Yura.. jangan bersikap seperti anak kecil. Ok?! Kau harus bersiap.. kau tidak ingin mengecewakan Appa dan Omma kan? Jadilah anak baik” sela Eonnie Yura tersenyum ramah. Menepuk puncak kepala adik nya itu dan berlalu pergi.
Meninggalkan gadis itu yang nampak menatap nya sedih. “Eonnie.. Appa dan Omma tidak mengerti bagaimana menjadi aku selama ini”
*****
“Nunna…” gadis itu berbalik. Mendapati Lee Jin Ki tampak berjalan kearah nya.
“Apalagi? Ingin membatalkan jadwal dan setelah itu pergi begitu saja?”
Lee Jin Ki nampak tersenyum menggeleng. “ani.. aku ingin minta tolong”
Gadis itu menghela nafas. “baiklah.. apa yang bisa Nunna mu ini bantu?”
“Bisakah Nunna mencarikan alamat gadis bernama Yura Horvejkul?” gadis alis itu bertaut bingung.
“Yura? Oh.. Gadis yang 4 tahun lalu kau tinggalkan dan lupa menghubungi nya dan kau menghilangkan alamat rumah baru nya?” Lelaki itu mengangguk.
“Kau gila Lee Jin Ki? Bagaimana bisa aku mencari nya di Seoul yang cukup besar ini? Ya!! Bukan kah kau mempunyai nomor nya? Kenapa kau tak menghubungi dan menanyakan dimana rumah nya? Bukan kah itu mudah?!”
Lee Jin Ki menggeleng. “itu tidak mudah Nunna”
“sudahlah Nunna mu ini sibuk.. jika kau bisa melakukan nya sendiri, kenapa kau harus meminta bantuan orang sekitar.. dasar” ucap Manager lelaki itu berlalu pergi.
“jangan lupa nanti malam kau harus menghadiri konser amal di sebuah resto Lee Jin Ki.. seorang direktur  telah meminta mu untuk hadir disana. Jangan kau batalkan seperti waktu itu” ucap Sang manager mengingatkan dan berlalu pergi.
“ne.. aku mengerti Nunna”
*****
“kau sudah siap Yura? Appa dan Omma menunggu mu di bawah.. kita akan berangkat bersama” seru Eonnie Yura di balik pintu sang Adik.
“tunggulah sebentar lagi..” ungkap gadis itu di balik pintu.
“ne.. turunlah setelah itu.. jangan mmebuat Appa dan Omma menunggu lama”
Yura nampak menghela nafas berat. Menatap ponsel nya kini. Tak ada tanda bahwa akan ada telpon masuk. Betulkah malam ini ia harus merelakan sesosok Lee Jin Ki?! Ia akan di jodohkan! Yaampun.. bagaimana bisa orang tua maupun kakak nya mendukung perjodohan ini.
“lelaki itu tak akan menelpon maupun berlari menemui mu Yura! Ia terlalu sibuk untuk melakukan hal bodoh itu..” ucap gadis itu pada diri sendiri.
Diputar nya kenop pintu nya itu. Berjalan keluar kamar. Ia seperti nya pasrah dengan perjodohan bodoh ini. Lee Jin Ki tak akan pernah menemui maupun menelpon nya. Lelaki itu sudah mempunyai kehidupan sendiri disana.
****
“aigo aku tak tau bahwa Ayah menyelingi acara perjodohan Yura dengan sebuah konser amal.. ayah memang hebat!” ungkap Eonnie Yura saat mereka semua tiba didalam resto tersebut.
Yura gadis itu nampak menatap lekat seisi resto. Penuh dan begitu ramai. Dentuman musik mengalun dimana-mana. “Hey Yura.. jangan diam di depan pintu begitu” ucap Appa gadis itu. Membuat Yura mau tak mau menyingkir dan duduk mengikuti Appa Omma dan Eonnie nya.
“kalian tau, appa mempunyai tamu spesial yang ayah hadirkan di konser amal ini sekaligus pengiring acara perjodohan Yura..” ucap lelaki paruh baya itu tersenyum. Menatap kedua puteri nya bergantian.
“Mwoya?” tanya Yura maupun Eonnie Yura serempak. Membuat kedua nya saling menatap.
“Penyanyi terkenal Lee Jin Ki!”
Yura terdiam kaku. Seakan waktu telah berhenti saat Appa nya menyebut nama itu. Bagai sebuah kalimat sihir yang memantrai diri nya saat ini.
“m…wo?” Yura nampak terdiam. Memutar cepat kepala nya itu kearah panggung. Menatap lekat siapa yang telah berdiri disana.
Mata mereka seakan bertemu. Seakan meremukkan segala nya. Cairan bening di pelupuk mata gadis itu menggenang. Merasakan penglihatan nya kali ini mengabur. Ia nampak berdiri dari duduk nya. Membuat Appa Omma maupun kakak perempuan nya saling menatap.
Pandangan gadis itu masih belum terahlihkan. Bagai sihir yang menguasai. Pandangan diantara Yura maupun Lee Jin Ki tak pernah lepas. Merasakan rindu yang amat besar disana.
“oh tuhan” gumam Yura. Air mata itu jatuh. Seakan seorang yang ia tunggu selama 4 tahun lama nya kini telah tampil dengan jelas di depan kedua mata nya itu.
“baiklah beri tepuk tangan yang meriah untuk Lee Jin Ki!!” seru MC yang berada disana.
“dan selanjut nya kami mempersilahkan Direktur utama untuk melanjutkan acara konser amal ini yang di adakan bersamaan dengan perjodohan puteri kedua mereka, Yura!” lanjut MC tersebut. Ruangan bertambah meriah. Gemuruh tepuk tangan seakan silih berganti mengalun.
Lee Jin Ki nampak membulatkan mata nya kini. Mendengar tak percaya apa yang baru saja MC itu katakan. Yura di jodohkan?! Yaampun.. yang benar saja! Mata nya dengan lekat masih mengawasi langkah direktur yang bernotabane ayah Yura maupun Yura sendiri. Mereka tampak berjalan kearah panggung.
“Yura..” gumam Lee Jin Ki parau.
Apa ia benar-benar terlambat untuk mengatakan nya?!
Gadis itu nampak anggun. Dengan sebuah setelan sederhana berwarna Lavender pucat  pendek. Wajah gadis itu tertunduk. Apa gadis itu tau bahwa ia tengah menatap nya?!
“Lee Jin Ki, apa yang kau maksud adalah Yura anak direktur itu?” pandangan lelaki itu teralih. Menatap jelas manager nya itu dnegan sbeuah senyum kecut di bibir nya.
“ne”
“kau menyukai nya kan? Kenapa kau tidak mengakui nya? Sebelum ia benar-benar menjadi milik orang lain” kepala lelaki itu tertunduk. Berpikir keras apa yang harus ia lakukan sekarang.
“tapi seperti nya aku sudah terlambat.. gadis itu di jodohkan” balas Lee Jin Ki parau.
“tak ada kata terlambat bagi seorang untuk memperbaiki sebuah kesalahan.. Nunna mendukung mu Lee Jin Ki!”
Lelaki itu tersenyum. Menghela sebuah nafas berat sebelum ia kembali melangkah lebih dekat.
****
Tak ada kata terlambat bagi seorang jika ia ingin memperbaiki sebuah kesalahan
Jika memang aku mampu mengendarai sebuah mesin waktu
Aku dengan cepat akan melesat bersama cahaya untuk menemui mu
Sebelum ini benar-benar berlalu karena kesalahan ku untuk kedua kali nya
Mungkin memang terdengar egois
Tapi ini karena Cinta ku pada mu
#####
Lee Jin Ki berjalan mendekat memasuki panggung. Mengambil sebuah pengeras suara di tangan MC tersebut. Membuat siapa saja bingung akibat ulah nya. Semua mata maupun beberapa lampu sorot panggung menatap nya. Membuat pandangan Yura teralih akibat lelaki itu.
“Lee Jin Ki” gumam Yura pelan. Masih bingung dengan hal apa yang akan di lakukan lelaki itu.
Lelaki itu nampak mengambil nafas dan kembali berbicara. Mungkin disini lah ia harus menyelesaikan segala nya. Ia harus mengatakan pada sesosok gadis yang tengah menatap nya bahwa… Ia mungkin belum terlambat untuk mengatakan Cinta pada gadis itu.
“hekm.. sebelum nya aku minta maaf pada semua orang disini. Mungkin malam ini aku harus membuang image ku sebagai sesosok Penyanyi yang semua nya mungkin sudah  ketahui..”
Manager lelaki itu hanya dapat menatap dari jauh. Sebuah gelengan dari nya tampak terpampang jelas. “dasar anak itu..” ungkap gadis itu tersenyum.
“aku tak tau apakah aku terlambat untuk mengungkap kan segala nya.. tapi aku akan mencoba untuk mengatakan nya malam ini. Aku tidak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kali nya.. aku…..” lelaki itu diam. Menatap lekat sesosok Yura yang berdiri tak jauh dari nya nampak menatap nya. Seakan berusaha mengatakan pada namja itu bahwa ia mungkin butuh sebuah penjelasan sekarang.
“aku harus mengatakan pada seorang di sana. Yang tengah menatap ku dan mungkin telah menunggu ku selama 4 tahun lama nya. Maaf karena aku lupa untuk menepati janji ku tapi ada satu hal yang harus ia ketahui bahwa….. Aku mencintai .. yah aku mencintai gadis bernama Yura Horvejkul yang kini tengah menatap ku sekarang. Aku mencintainya..”
“aku tak tau apakah aku terlambat untuk mengatakan ini tapi aku berusaha untuk menghilangkan sebuah penyesalan dan memperbaiki kesalahan yang telah ku buat 4 tahun lalu..” Lee Jin Ki diam. Merasakan apakah setelah ini ia akan benar-benar tertelan oleh bumi?! Yaampun…
“yaampun bagaimana bisa anak itu merangkai sebuah kata yang tak pernah ku pikirkan” ucap manager lelaki itu menatap keatas panggung. Sedikit takjub bahwa lelaki itu bisa mengatakan hal-hal seperti itu.
Suasana tampak kaku disana. Membuat beberapa orang disana masih dengan lekat menatap sesosok Lee Jin Ki. Yang benar saja! Penyanyi terkenal itu mengungkap kan cinta nya pada sang anak direktur yang  tadi akan memulai acara perjodohan nya.
Yura tampak menatap Appa nya kini. Seakan bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Dilihat nya dengan jelas Lee Jin Ki nampak mengembalikan mic tersebut pada seorang MC disana. Menatap nya sebentar sebelum akhir nya berjalan turun menjauhi panggung. Apakah lelaki itu akan pergi?! Tidak.. lelaki itu tak boleh pergi!!
Dengan gerakan cepat Yura nampak turun. Membuat Appa Omma maupun Eonnie nya menatap tak percaya. “yaampun anak itu”
Air mata gadis itu nampak turun. Mengejar keluar resto sesosok Lee Jin Ki. Dan seketika itu tangis nya meledak. Lelaki itu tak boleh pergi. Lelaki itu tak boleh pergi meninggalkan nya lagi.
Dilihat nya sekeliling. Tak ada tanda-tanda bahwa Lee Jin Ki masih ada disini. Langkah gadis itu terhenti seakan merasa sungguh putus asa. Air mata itu masih turun. Melunturkan make up nya kini.
“jangan pergi.. kumohon” ucap gadis itu bergetar.
Bibir nya seakan tak bisa berbicara banyak. Sedetik itu, ponsel nya nampak bergetar pelan. Dengan tangan yang masig gemetar, diangkat nya panggilan tersebut.
“Jangan menangisi ku.. aku masih ada disini! berbalik lah” suara di ujung sana nampak menyeruak. Membuat sesosok Yura berbalik tak percaya.
Kedua bola mata itu melihat jelas sesosok Lee Jin Ki yang tengah tersenyum menatap nya. Membuka lebar kedua tangan nya itu. “saranghae..” sebuah pelukan hangat yang kembali muncul untuk Yura seorang setelah beberapa tahun berlalu. Masih tetap sama. Dan akan selalu sama.
*****
Jika aku mampu mengendarai sebuah Mesin waktu saat ini
Dan pergi menemui mu
Aku mungkin tak akan berharap  yang lain
Sebelum waktu saat ini benar-benar berlalu dan hanya menjadi sebuah kenangan yang sia-sia
Sebelum  semua kenangan kita berdua terlupakan
Bahkan jika kita sampai pada kesimpulan yang sama
Pasti tak akan ada penyesalan sedikit pun
Diantara aku maupun kamu
*****
 
####
~TIME MACHINE ENDING~
####
 
HUAAAAAA >//<)
Rada minder ngirim nih FF ke Yeppopo eonnie soal nya FF saya yang satu lagi yang pernah di kirim, >> OURS~ kurang laku seperti nya ._.)semoga suka yaa!!!

COMMENT MANA COMMENT
Silent reader mucul donk #melas. Jangan hanya senyum gaje di ujung sana #ditabok
Jangan di bawa pulang ya jejak diatas!! Hehehe wajib di tinggalin..
Oh iya promote dikit nih, ini name FB penulis >> @Dewi Ayu Swastika , Twitter: @dewiayuswstika & @Choiminra0613 ~
Berminat, bisa meng-add atau gak follow penulis ya biar tambah temen wkwkwkwkwk :DD_KAMSHAMNIDA_

Ok bye #hug
######

2 comments on “(FanFict) Onew: TIME MACHINE

  • kaya’a aku kenal deh sama gaya nulis’a..
    apa aku pernah baca FF kamu sebelum’a ya..?
    nama choi minra jg gak asing,,pernah dipake bwt cast salah satu FF jg gak?
    sorry klo sok tau.. hehehe
    btw aku baca FF nih krn cast’a Onew 😀 gaya nulis’a bagus..

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google

    You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: