[Trans/Review] Geek Out CNN : Ketika Fans Bertindak Terlalu Jauh

Published 22/10/2012 by _kadzuki_

Xia Junsu (kiri) dan Kim Jae Joong (kanan) adalah member JYJ yang memiliki fans sasaeng

 

Sesuatu yang kelewat bergairah, lelucon yang konyol, ketika aku menyukai sesuatu, aku hanya tidak ‘menyukai’-nya. Aku sering kelewat bersemangat dalam hal-hal tertentu, berubah menjadi mode full fan dengan sangat cepat.

Sekali aku berada dalam mode itu, aku seolah menjadi penyiar dadakan, dengan bersemangat bercerita pada teman-temanku mengenai obsesi baruku sambil melambai-lambaikan tanganku di udara.

Semangat yang kelewatan ini disebut ‘fangirling’ (atau dalam beberapa kasus, ‘fanboying’), dan ini merupakan hal yang biasa di kalangan orang aneh. Faktanya, bahkan ini tidak lebih aneh dari yang teraneh: pengoleksi perangko, pengoleksi vintage, dan para fanatik boneka juga memiliki reaksinya masing-masing. Kita semua bersemangat ketika memiliki kesempatan untuk berbicara tentang apa yang kita sukai. Ketika kita berbagi antusiasme kita terhadap sesuatu, kita aka menerima orang lain dalam lingkungan pribadi kita.

Terkadang, di tengah-tengah menonton drama Asia dengan pemeran utama pria yang tampan secara maraton, aku betanya pada diriku sendiri: Apakah kita lari dari realita? Apakah ini bisa berlanjut lebih jauh?

Semua kenikmatan duniawi bisa berujung dari larinya kita dari realita, tapi bisakah semua itu melampaui batas yang disebut obsesi? Apakah kau obsesif ketika sepanjang tahun kau habiskan untuk membuat desain kostum Final Fantasy yang akan dipakai ke Dragon Con, atau kau pikiranmu sering kelewat kreatif? Apakah menjadi ensiklopedi berjalan tentang sejarah Star Trek itu baik, atau perlukah kau selalu mengupdatenya sepanjang hidupmu?

Jika ada satu bagian tentang fandom yang membuat sebuah dunia untuk kabur dari realita, hal itu adalah fan fiction. Magan Cubed, seseorang yang telah aktif dalam komunitas fanfic satu dekade, mengatakan bahwa sebenarnya fandom adalah sebuah sarana social networking yang tidak membahayakan. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu dapat memburuk dan menjadi berbahaya, menjurus ke arah stalking atau pelecehan, ujarnya.

Hal ini akan terjadi ketika sebuah grup dalam fans merasa lebih dari yang lain. “ kata Cubed. “ Mereka mulai merasa mereka perlu mengatur bagaimana sesuatu (yang berkaitan dengan fandom mereka) ditulis, ditampilkan, pemerannya, dll, dan orang-orang kreatif lain akan dianggap salah karena tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hal ini sering terjadi sebagai rasa kepemilikan yang keterlaluan atas seorang aktor film atau serial tivi, dan menyebabkan ancaman terhadap sang aktor atau orang-orang terdekatnya, baik melalui media online ataupun secara langsung.

Sebagai contoh mudah, ada sekelompok fans dari acara ‘Supernatural’ yang mulai menamai diri mereka sendiri ‘The Silent Majority’ dan mulai menulis season selanjutnya yang menurut mereka sesuai, mengklaim bahwa penulis naskah dari acara tersebut pelah mengkhianati inti dari acara tersebut.

Grup ini juga mengirimkan ancaman dan pesan yang bersifat menyerang pada para pemeran dan suami/istri mereka, dan mengusahakan pemeran yang tidak mereka sukai dikeluarkan dari acara tersebut. “ ujar Cubed. “ Biasanya ancaman ini hanyalah pepesan kosong, tapi ini menjadi sebuah pengingat yang mengerikan, bagaimana banyak fans bisa melupakan realita di sekeliling mereka.

Hal ini sangat umum di internet, menjadi sesuatu yang tanpa akhir—dan sangat tidak membahayakan (secara fisik)—ribuan forum fans.

Amerika telah mengalisa fans-yang-berubah-menjadi-obsesif ini sebagai akar penyebab dari kasus celebrity stalking. Di belahan dunia lain, Korea Selatan, memiliki bentuk obsessed fans yang sangat berbeda.

Bintang pop Korea memiliki nama spesial untuk stalker mereka, yang disebut ‘sasaeng’. Ini merupakan sekelompok fans perempuan yang bersedia melakukan hal ekstrim untuk memasuki kehidupan pribadi idol yang mereka sukai, bekerjasama agar bisa menyukseskan misi mereka. Mereka sering terlihat dalam background foto-foto para idol, terkadang berjubel di jendela dengan wajah yang benar-benar ditempelkan ke kaca dengan harapan bisa mendapat sedikit lirikan dari sang idola.

Mereka (para sasaeng) juga dikenal untuk selalu mengikuti para selebriti di jam kerja mereka dengan menggunakan taksi, membobol rumah mereka, serta membeli dan menjual informasi pribadi mereka secara online, termasuk nomor identitas dan nomor telepon. “ ujar Bianca Gomez, yang mengelola sebuah blog Korea yang membahas para sasaeng ini.

Bintang K-pop JYJ adalah salah satu grup yang telah lama menjadi target para fans sasaeng, namun mereka hanya segelintir yang menyatakan reaksi terhadap sasaeng secara publik, menyebabkan munculnya diskusi mengenai topik ini dalam komunitas fans.

Tidak seperti paparazzi, sasaeng hanya memiliki satu tujuan: untuk sedekat mungkin dengan idol kami.

Sikap ekstrim dan perilaku para sasaeng membuat kita sulit mempercayai bahwa motivasi mereka begitu simple, seperti apa yang sering diidamkan fans lain. “ ujarnya. “ Seorang fans yang sehat (tidak lari dari realitanya sendiri), “ tambahnya, “ Menghormati idola favorit mereka dan berdedikasi untuk mendukung mereka apapun caranya dan bagaimanapun keadaannya.

Di Korea, sasaeng adalah suatu paradoks yang berjalan. Mereka mencelakai dan membuat stres orang-orang meski mereka tidak bermaksud seperti itu, mereka mencintai idola mereka namun menginginkan mereka secara utuh untuk diri mereka sendiri, dan mereka sendiri dibuang oleh fandom mereka. “ ujar Gomez.

Karena banyaknya fandom yang ada, sasaeng berusaha menyosialisasikan diri mereka dengan sebuah sistem networking yang terorganisir dengan baik.

Mereka menyetujui tanggung jawab yang dibebankan pada mereka dan memenuhinya, pencarian informasi mereka begitu hebat, dan kemampuan mereka untuk berkomunikasi satu dengan yang lain serta kecepatan mereka untuk mengetahui jadwal para idol benar-benar di luar dugaan. “ ujar Gomez.

Adanya organisasi sosial membedakan para sasaeng dengan para stalker selebriti yang biasa ada di Amerika. “ jelas Gomez.

Masalahnya, hukum di Korea tidak memperhatikan masalah privasi.

Kami tidak memiliki banyak pengalaman dalam melindungi privasi seseorang. “ Lee Jin Ki, seorang profesor hukum dari Universitas Sungkyunkwan mengatakan. “ Korea Selatan berada dalam masa transisi, berubah dari komunitas yang berorientasi pada grup menjadi komunitas yang berorientasi pada individu. Contohnya, sasaeng tidak bisa ditangkap untuk tuduhan pelanggaran privasi/ Mereka hanya bisa terkena tuduhan untuk pencemaran nama baik, surat kaleng, atau ancaman.

Semua orang bisa mendapatkan hukuman jika melibatkan seseorang baik secara online maupun offline. Ini bukan tentang kita memiliki hukum atau tidak, tapi lebih cenderung kepada mindset orang-orang. “ ujar Lee.

James Turnbull, seorang pengajar dan konsultan untuk masalah Korea, mengatakan bahwa fenomena sasaeng ini hanyalah salah satu cara industri hiburan Korea agar masyarakat tetap memperhatikan idol mereka. “ Mungkin inilah alasan lain mengapa mereka yang memiliki otoritas lebih, kadang menutup mata tentang aktivitas para sasaeng ini. “ ujarnya.

Sikap obsesif para sasaeng ini cukup logis, meski ekstrim, dan hanya merupakan efek samping. Dan hal ini juga sudah berkembang cukup lama. Seorang wanita paruh baya, dengan sumber keuangan yang cukup untuk menjadi seorang sasaeng, mulai berdonasi kepada fanclubs sejak pertengahan 2000an. Kita hanya akan mengusutnya lebih jauh jika ia melakukan illegal downloading dan penyebaran lagu dari grup tertentu demi mendapatkan keuntungan pribadi. “ ujar Turnbull.

Mindy Mechanic, seorang psikolog klinik yang ahli di bidang Post-Traumatic Stress Disorder dan juga seorang profesor bidang psikologi di Universitas California, mengatakan bahwa sikap yang ditunjukkan para sasaeng dilatarbelakangi oleh kebudayaan, dan harus dapat dipahami dalam konteks tersebut.

Grup ini bergerak sangat dinamis dalam berbagai macam tipe fans yang memperbolehkan keanoniman ketika mereka melanggar privasi para selebriti. “ ujar Mechanic. “ Dalam kasus fans sasaeng, lebih mudah melupakan bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat tidak menghormati orang lain karena mereka dikelilingi orang-orang yang akan selalu bergabung dengan mereka.

Tapi jika mereka mengejar idola mereka sendirian, “ ujar Mechanic, “ Mereka mungkin akan menerima konsekuensi(tuntutan) dari orang yang mereka kejar.

Banyak sekali stalker, terutama yang menstalking public figure dan selebriti, menderita penyakit mental dan terkungkung dalam suatu kepercayaan yang salah. Meskipun begitu, grup fans ini lebih seperti groupies… bersenang-senang di konser bersama fans normal lainnya dan berusaha sedekat mungkin atau menyentuh pujaan mereka. “ ujarnya.

Gomez pun setuju dengan pernyataan Mechanic tersebut.

Ada kepentingan dan identitas yang dibutuhkan yang tidak hanya untuk ‘terhubung’ dengan seorang idola, tapi dengan mencari fans lain melalui keterlibatan mereka dalam jaringan (fandom). “ ujarnya. “ Dalam kasus fans sasaeng, sebuah fandom memberikan sesuatu yang berarti bagi hidup mereka, dan orang-orang didalamnya, yang gagal untuk membuktikan.

Dalam pikiranmu, apakah perbedaan dari sebuah hobi, gairah, dan ketertarikan yang keterlaluan? Apakah ada perbedaan antara menjadi seorang penggemar setia dan seorang fans yang obsesif?

 

Source : Colette Bennett

Credits : Geek Out CNN

Via : JYJ3

Indotrans : fatearam@yeppopo

 

Jadi fans boleh-boleh aja, tapi jangan sampe kita lari dari realita, menginginkan sesuatu yang tidak mampu dijangkau sampe melanggar privasi orang lain. Ingat, kita semua hidup dalam realita, ada yang menunggu kita di luar sana. Apakah lari dari realita bisa bikin semua masalah kalian terselesaikan? Tidak. Yang ada hanya masalah yang semakin menumpuk. Ikut fans, fandom, itu sah-sah aja, tapi sekali lagi, jangan jadikan dua hal itu pelarian dari hidup yang emang nggak semulus yang kalian kira. Face the reality, and don’t try to escape even for a while!

19 comments on “[Trans/Review] Geek Out CNN : Ketika Fans Bertindak Terlalu Jauh

  • Sereem bgt ya. Sasaeng fans..
    Itu tindakan melebihi batas wajar..
    Makanya para idola sering jaga jarak sm fansnya,,itu semua gr2 mrekka udh parno dluan kali ya sm sasaeng fans (⌣́_⌣̀) ( ⌣ ́_ ⌣ ̀) perlu ada tindakan atw sanksi khusus utk sasaeng fans sbnrnya,,krn mreka udh mengganggu privasi seseorg.. Ini kan smcm tndkn teror ttp scr halus #mungkin

  • Nah iya! sebenernya sasaeng fans itu masih bagian dari Fans.
    Tapi karena dia mengidolakan idolanya secara fanatik sampai keluar dari realita, oleh karena itu sasaeng fans gak dianggap sama fandomnya sehingga dia berubah jadi brutal/malakukan hal2 ekstrim yang bahaya buat idolanya.
    Padahal kan kalau dipikir2 lagi, buat apa melakukan hal aneh begitu.
    Ya mungkin sebagian sasaeng berkomentar kalau dia cuma ingin apa yang udah dia lakuin bisa diingat sama idolanya.
    Tapikan itu hal yang aneh bahkan cenderung membahayakan idolanya.

    Sasaeng gak bisa dihindari, tapi bisa dikurangi.
    Ya semoga aja sasaeng fans bisa sadar, kalau apa yang udah dilakuin itu salah dan merugikan para idol.
    Lebih baik jadi fans pintar.
    Yang melakukan hal2 baik demi mengangkat nama idolanya.

  • Fans yang sehat (tidak lari dari realitanya sendiri) adalah orang2 yg menghormati idola favorit mereka dan berdedikasi untuk mendukung mereka. Ssaeng sih bukan fans, they’re obsessive people with crazy mind & wacko needed demand. Get a life, bitches!!

  • “Mindy Mechanic, seorang psikolog klinik yang ahli di bidang Post-Traumatic Stress Disorder dan juga seorang profesor bidang psikologi di Universitas California, mengatakan bahwa sikap yang ditunjukkan para sasaeng dilatarbelakangi oleh kebudayaan, dan harus dapat dipahami dalam konteks tersebut”

    –> Setuju banget!!! sikap, kepribadian seseorang JUGA BISA dilatarbelakangi oleh KEBUDAYAAN. Gw sih tidak peduli kalo kebudayaan sana seperti itu, dan biarkan orang korea saja yang seperti itu… meski sikap, mind set, personality tiap orang beda2, tapi kebudayaan kita tidak pernah mengajari seprti itu #itu yg gw rasakan# dan semoga tidak ada fans2 k-pop di indonesia meniru perilaku fans2 k-pop di korea sana. #just opinion#

  • Tetep real aja,mencintai mereka ga berlebihan / obsesif..
    Idola jg butuh privasi,butuh ruang buat mereka menjadi mereka yg manusia biasa sejenak lepas dari embel2 “idola”

  • setuju sama author, nge-fans boleh, tapi yang wajar aja..
    tingkat kewajaran menurut orang2 emang beda-beda, tapi ada batasan dalam masyarakat yang disebut norma. selama ga melewati batas itu seharusnya ga jadi masalah.

    mengenai sasaeng, menurutku mereka itu memiliki gangguan (entah emosi atau yang lain) yang bisa disebabkan oleh berbagai hal. mungkin mereka merasa nggak dianggap di lingkungannya sehingga mencoba lari dari itu semua dengan cara yang menurut mereka layak dan keren (?). dengan banyaknya kasus seperti ini seharusnya pemerintah korsel lebih memperhatikan privasi warga negaranya. mungkin sasaeng2 itu bisa dirawat di rumah sakit jiwa? #ngaco
    ga kebayang ada orang yang tahan sama kelakuan sasaeng kyk JYJ (sabar y oppa..)

    Yang bikin tambah sedih adalah banyak fans2 Indo yg kelakuannya makin aneh dan obsesif sama idolnya. Yah, semoga aja mereka segera terbuka pikirannya bahwa hidup kita haruslah dipenuhi oleh diri kita sendiri, bukan orang lain yang bahkan kenal kita pun enggak.. Menyedihkan…

  • klo fans indo gak ampe macem2 ngikutin idolnya kyk fans korea siihh. Lah org jauh, idol di koreak. kita dimari. hehehe
    tp gw stuju ama fans indo yg skrng makin aneh -___-”
    klo pndapat gw. contoh aja dr fan fiction. hhmmm para author’y mkin bnyk bkin crita yg aneh2. iiuuhh… serem bcanya. tauk lah maksudnya. hehehe😛

  • kalo fan fiction yg lucu2 sih gue msh mo baca…lucu swajarnya..konyol sewajarnya….have fun anggap aja baca komik..:-),tapiii..kl udah menjurus yg enggak2…angkat tangan…deh gue..

  • sdh gw bilang sasaeng fans ntu sebener’a b’bakat nah tinggal pemerintah Korea aja yg membina mereka d’jalan yg bener *alah bhs gw* lebih baik d’masukin sekolah mata2 kan bisa b’guna buat negara ato jadi hacker jadi detective jadi psikolog juga biasa kalo seandai’a bisa memahami pemujaan b’lebihan terhadap sesuatu😀

  • wuidih ada Supernatural (SPN) disebut2…. gw termasuk yg ngikutin masalah SPN juga…
    yg heboh ketika SPN season 7 yg banyak ngecewain penggemar, mereka beramai2 kiritk ke penulis/ide cerita dan minta staff itu serial tuk pake ide mereka… *malah OOT

    jd masalah fans yg terlalu obsesif sbenernya ga hanya di Korea aja kok… krn yg namanya psikologi terganggu ga hanya di Korea n Asia..

    jd intinya… balik lagi ke diri kita masing2 ajah deh, jd fans yg wajar… ni yg sederhana yah, bukan sampe tingkat ssaeng…
    -fans shipper boleh lah ngungkapin kecintaannya thadap tuh shipper, tp ya jgn sampe lah ngliat salah satu pelaku shipper deket ma yg lain…. pake ngebash berlebihan apalagi sampe perang shipper…. apa untungnya coba?
    -fans yg eneg ma tingkah fans shipper yg kbetulan melibatkan idola mereka, ga ushlah sampe ngebenci idola yg dipasangkan oleh shipper itu krn yg salah kan fans shipper bukan idolanya
    -fans yg suka bikin fanfiction, boleh lah meluapkan kekreatifan mereka tp jgn sampe diluar batas, apalagi menjadikan dirinya tokoh utama sbg pasangan dan bikin cerita yg isinya dr awal ampe akhir mengandung ‘mature content’… for me that’s too obsessed..
    -fans yg suka baca fanfiction pun, klo bisa yah klo bisa terutama yg di bawah umur jgn suka deh baca fanfiction yg membuat pembaca sbg tokoh utama trus isi cerita yg gw sebutin di poin atas… krn mnurut gw ga ada bedanya ma ssaeng…
    -fans itu emank sangat penting di mata idola tp ga musti juga kan kita mengatur hidup sang idola…. pacaran ma sapa, gaya hidup sperti apa..

    klo candaan mah gw masih wajar krn gw sering bawa2 idola gw buat diuyel-uyel di komen… asal sama kayak gw yg tw diri klo ada ‘jarak’ antara kita dan idola..

    puanjang beut dah komen gw *tepok jidat
    diabaikan juga ga papa kok chingu… cuma mo ngeluarin unek2 ajah.😀

  • untungnya ane kalau jadi stalker musim2an..kalau di kantor lagi gak da dead line kayak gini..mulailah jadi stalker dimana2…

    semua memang harus ada porsinya…semua cinta hanya milik Tuhan..*berat bahasannya*

  • menurut gue sih, sasaeng fans itu satu tipe ama anti fans. bedanya cuma satu, yaitu :

    => sasaeng fans : dia itu ngefans. tapi, terlalu dan bikin psikologisnya terganggu karena khayalan yang terlalu tinggi dan berusaha. jadi, itu penyebab dia itu obsesif dan jadi stalker. dan, bikin nyelakain idolanya.
    => anti fans : ngejelek-jelekin idola yang dibenci sampai bikin berita yang HOAX.

    dan, setelah gue baca ini, gue jadi bisa nyimpulin kalo :

    => sasaeng fans itu termasuk mengalami gangguan jiwanya.
    => sasaeng fans itu mengayal terlalu tinggi dan jauh dari realita.
    => sasaeng fans itu rata-rata di kucilkan disekolahnya dan buat dunia sendiri bersama orang-orang yang satu tipe dengannya.
    => ngabisin duit dari usaha sendiri demi idola yang jelas-jelas juga manusia biasa kayak dia dan gak kenal ama dia. #PALINGPENTING

    yah, nasehat gue sebagai sesama fans, mending gini :

    => ambil sisi positif dari idola. because, idola juga bukan Tuhan yang semuanya bagus sikap & sifatnya dan elu-elukan.
    => cukup jadi inspirasi diri kita aja.
    => kalopun, idola itu mempunyai sikap yang bagus. bukan berarti semua dibagusin. contoh : idola itu oplas. trus, kita mesti ngikutin gitu? ga ‘kan?
    => DAN, kita juga mesti memerhatikan kebudayaan idola yang dibawanya. kalo baik, ambil. kalo jelek, ga usah diikutin. ^^

    INGET, kita ini semuanya sama. ciptaan Tuhan dan sama-sama makan nasi. dan, fans dan idola juga sama. sama-sama manusia biasa. bener ga?

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: