(Fanfict) What If

Published 02/08/2012 by askarein

Author            : Fha (@fhanee_La)

Leght              : Oneshot

Genre              : Romance

Cast                : – cho Kyuhyun Super Junior

–         Han Da Eul ( as you)

–         Member of Suju and other illustration cast

Rating             : PG-15

 

Ini fanfic pertama saya, jadi mohon maaf jika banyak kesalahan di dalamnya. Setting waktunya saya ambil ketika album 5jib Suju rilis dan meski bias saya adalah Kibum, tapi saya lebih suka pake Kyuhyun untuk Fanfic ^_^…

…Happy read…

 

ooOoo

 

 

What If

 

Kata jika selalu memberikan harapan…

Kata jika membuat hal yang tidak mungkin menjadi terlaksana…

Dan kata jika bisa kupakai untuknya, karena jika aku tak bertemu dengannya dulu semua tak akan terjadi seperti ini…

 

ooOoo

Saat itu aku beserta ribuan ELF, yah itulah julukan untuk para  fansclub-nya, sedang berkerumun untuk meet and greet boyband yang satu ini. Super Junior baru saja meluncurkan album kelimanya yang berjudul Mr. Simple. Huh, boyband macam apa itu? Lagunya aneh, personelnya pun juga aneh-aneh.

Perlu dicatat aku di sini bukan sebagai penggemar, tapi demi menggantikan posisi temanku yang tidak bisa hadir di acara ini. Dia seorang ELF sejati, sayang ia terbaring lemah di rumah sakit karena sakit tifus dan dia memohon dengan sangat padaku agar hadir di sana demi mendapat tanda tangan 10 personel boyband itu di album terbarunya.

Baiklah, baiklah, aku setuju. Kasihan dia, nanti sakitnya malah tambah parah. Walaupun setengah hati aku pun berangkat ke sana. Yah, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan boyband ini, tapi demi sumpah setia kawan aku melakukannya. Super Junior I’m coming…

Tiba saatnya pembagian tanda tangan. Aku dan para ELF lainnya harus antri dengan tertib. Selain itu kami dilarang memotret atau kontak fisik dengan mereka. Ah, sombong sekali mereka. Baru jadi artis Hallyu saja sudah besar kepal. Rasa bosan pun mulai menghampiriku yang berada dalam antrian.

Aku baru saja meletakkan CD album mereka untuk ditanda tangani. Namun dengan wajah malas dan seolah super sibuk, orang ini langsung merebutnya. Aku tahu siapa dia. Cho Kyuhyun. Personel Suju yang paling aku benci. Semua orang tahu bagaimana watak si gamegyu ini hingga dijuluki evil magnae. Dari julukannya saja kita sudah bisa menebak bagaimana ketidakberesan pad orang ini. Aku tahu ia mempunyai suara bass yang indah, tapi jujur saja hal yang membuatku bertahan di sini adalah tenor-nya Ryeowook. Hemm, aku lebih suka si eternal magnae itu. Jadi dengan kesalnya aku rebut kembali CD itu dan kuberikan pada Shindong yang duduk di sebelahnya. Puas sekali hatiku melihat ekpresinya keterkejutannya. Baru pertama kali ditolak fans,ya? Hahaha, rasakan!

Hanya ini sajakan? Baiklah, aku tak mau berlama-lama di sini. Muak aku melihat tampang sok gantengnya si evil magnae itu. Dengan helaan napas lega, kulangkahkan kaki keluar dari gedung itu.

Duh, kenapa harus sekarang sih! Perutku meleilit sekali rasanya. Mungkin karena kebanyakan makan cabai semalam. Duuh, semakin sakit. Ahh, terpaksa kupinjam dulu toilet gedung ini. Cabai merah terkutuk! Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik cepat ke rumah sakit. Lee Yong Won pasti sudah menungguku dan sepertinya aku juga perlu penanganan medis.

Ramai sekali di depan sana. Oh, boyband itu sudah mau pulang ternyata. Banyak sekali yang mengantarnya. Artis Hallyu memang tidak main-main kalau soal fans ya.

Tapi, hey, apa itu! Kulihat ada seorang gadis bersiap melemparkan sebuah benda. Aku tidak tahu pasti benda apa itu, tapi aku yakin benda itu cukup keras dan bisa melukai wajah bila dilempar dengan kuat. Apa dia seorang antifans? Babbo, bukan itu yang seharusnya kupikirkan sekarang! Aku tahu gadis itu akan melempar tepat ke arah Super Junior. Jiwa heroikku terpacu. Aku memang tidak suka dengan boyband ini, tapi aku paling benci dengan kekerasan.

Langkahku terpacu dengan cepat. Aku nekat menerobos ribuan fans serta penjagaan yang super ketat. Tak peduli dengan anggapan orang bahwa aku akan berbuat anarki. Kualihkan pandanganku pada kecepatan benda itu di udara. Secepat kilat kudorong seorang pria yang ada di depanku. Aku tahu di saat yang sama pria yang kudorong serta benda itu jatuh. Dia selamat, tapi benda itu menyenggol pipiku. Sebuah baret panjang terukir di sana. Tak ketinggalan aliran darah segar membasahi sebagian wajahku.

Semua orang berteriak histeris. Aku termundur beberapa langkah. Gravitasiku terganggu akibat melandasnya benda itu di wajahku. Kepalaku terasa pusing ketika keadaan menjadi panik. Blitz kamera berkali-kali menerpa wajahku dan para bodyguard sibuk mengamani keadaan serta mencari si pelaku.

Siwon si pria yang paling gentleman langsung membuka jasnya dan membiarkannya menjadi lap di wajahku. Darah segar langsung meresap dan membuat warna baru di jas putihnya. Kesepuluh personel boyband ini langsung dievakuasi, termasuk aku. Namun otakku terasa kosong. Aku justru menolak diboyong bersama mereka. Aku tak tahu apa yang kupikirkan, tapi yang kusadari sekarang aku berada di dalam sebuah taksi dengan keadaan setengah pingsan.

 

Satu minggu kemudian…

“ Kau lama sekali memberikannya padaku. Eh tunggu dulu, kenapa cuma Sembilan? Suju-kan ada sepuluh”.

Sebuah balas budi yang setimpal. Omelan Lee Yong Won kuterima sebagai ucapan terima kasih. Aku mendesah panjang. Dasar manusia tak tahu diri!

“ Suju itu 13 tahu!”, sergahku.

“ Nah, itu kau tahu. Sayangnya minus Hangeng Gege dan Kibum Oppa, sedangkan Kangin Oppa sedang wamil. Jadi sekarang pas sepuluh”. Sebuah cengiran usil terukir di wajahnya. “ Eh, Han Da Eul, kau tahu tidak? Waktu kejadian jumpa fans ini ada kejadian seru. Aku baca di internet, katanya ada seorang wanita yang menyelamatkan Kyuhyun Oppa dari sebuah serangan yang dilakukan wanita aneh. Dia baik sekali, tapi kasihan wajahnya sampai berdarah. Kurasa ia harus dapat operasi plastik untuk menghilangkan bekas lukanya”.

Bla, bla, bla, dan bla. Semakin panjang Yong Won bercerita semakin pusing kepalaku mendengarnya. Suaranya sudah seperti dengungan lebah di telinganku. Entah kenapa tiba-tiba kau ingin ke toilet. Ketika aku bangkit dari tempat tidurku, wajah Yong Won terlihat pucat saat menatapku.

“ Kau kenapa?”

Yong Won masih terlihat pucat. Jari telunjuknya gemetar saat menunjuk bekas luka di wajahku. Aku menghela napas berat. Yah, cepat atau lambat orang ini pasti akan tahu.

 

 

Aku benci sikap Yong Won yang terlihat seperti orang bodoh saat aku menjelaskan semuanya. Memang wajar kalau dia bersikap seperti itu. Cerita yang kubuat memang seperti fanfiction saja.

“ Lalu apa yang akan kau perbuat?”, tanya Yong Won.

“ Molla”, jawabku enteng.

Lidah Yong Won berdecak kesal. “ Tidak tahu bagaimana? Saat ini semua pers serta para fans sedang mencarimu, tapi kau malah enteng-enteng saja berbaring di sini!”.

“ Memangnya apa yang harus kuperbuat?”.

“ Kau harus segera memperbaiki wajahmu! Tapi ingat, sebisa mungkin kau harus merahasiakan siapa dirimu. Tahu sendirikan semua orang sedang mencarimu dan hal-hal buruk bisa saja terjadi. Maka dari itu kau harus berhati-hati!”.

Aku mengangguk lemah. Betapa mengerikannya ketika aku membayangkan kata-kata Yong Won.

“ Tapi kau juga tidak mungkin hidup dengan wajah yang seperti itu terus. Mau tidak mau kau harus oplas”.

Omma juga mengatakan hal yang sama, tapi aku menolaknya. Malas ah”.

Mwo yaa? Kau sudah gila ya? Baret sebesar itu bisa jadi aibmu seumur hidup. Kau bisa saja dikeluarkan dari pekerjaanmu atau menjadi perawan tua!”.

Sudut bibirku tertarik sebelah. “ Itu gila, mana mungkin hal seperti itu terjadi. Sudah ah, pokoknya ini bukan masalah besar. Kau tenag saja, aku pasti akan berhati-hati”.

ooOoo

 

Meskipun aku tetap berkata tidak, tapi operasi tetap kujalani. Si nyonya besar alias ibuku memaksa agar aku melakukan oplas. Memang bukan oplas total, hanya menghilangkan bekas luka ini saja. Operasinya sebentar dan hanya mengangkat bekas lukaku saja. Sebenarnya hal ini juga tidak bisa disebut dengan oplas.

Setelah menjalani hari-hari yang membosankan di rumah karena sehabis operasi wajahku belum boleh terkena polusi uadara secara langsung, aku diperbolehkan jalan-jalan keluar. Akhirnya udara Seoul yang pekat bisa kuhirup lagi. Aku memutuskan untuk berkeliling di slah satu mall high class di Seoul. Tidak ada hal khusus yang ingin aku beli, hanya sekadar cuci mata saja.

Aku sedang asyik menyusuri tiap etalase toko fashion ketika seseorang menghalangi jalanku. Awalnya aku mengabaikannya, tapi lama-lamaan ia selalu menghalangiku. Aku mendengus kesal. Kuhentakkan kakiku dengan kasar lalu menatap wajahnya.

“ Yaak!”.

Aku tertegun saat mata kami saling bertemu. Mata itu, mata hasil oplas. Eh, bukan itu bodoh. Maksudku aku sangat mengenal tatapan orang ini. Cho Kyuhyun. Tapi apa urusannya denganku? Ah, biarlah. Mungkin salahku yang justru menghalangi jalannya. Aku sudah menghindarinya namun orang ini masih berdiri di hadapanku, ia juga menahan lenganku. Dahiku berkerut saat menatapnya, hal yang sama juga terjadi padanya. mata oplasnya ikut menyipit.

“ Kau si Miss K- kan?”.

Lipatan di dahiku bertambah satu. Miss K? Siapa dia? Ah, salah orang nih.

“ Aku bukan Miss K dan aku juga tidak kenal siapa dia”.

Dia menyeringai. “ Tidak salah lagi. Kaulah si Miss K itu”.

Sakit jiwa…

“ Kurasa kau salah orang”.

Aniyo, aku yakin kau orangnya. Kau wanita yang mendorongku waktu insiden jumpa fans waktu itukan?”.

Deg, dia tahu!  Eottokaji…

“ Tuh kan benar. Semuanya terlihat jelas dari ekspresi bola matamu”. Laki-laki itu menatap wajahku dengan seksama. “ Mana bekas lukamu itu ? apa kau sudah melakukan oprasi plastik?”.

Entah kenapa aku kehilangan kemampuan untuk menjawab. Aku mencoba melepaskan genggamannya tetapi ia masih ingin menahanku. Kuputuskan untuk mengalihkan pandanganku ke tempat lain.

“ Sudah lama aku mencarimu”.

Deg, kata-katanya barusan begitu mengejutkan hingga menyita perhatianku.

“ Maksudku semua orang. yah, mereka penasaran dengan siapa dirimu. Bahkan pihak manejemenku berusaha menghubungi seluruh dokter bedah dan rumah sakit serta klinik kecantikan untuk mencari informasi siapa saja yang melakukan operasi plastik akhir-akhir ini, sayangnya nihil. Begitu pula para fans, mereka juga ikut mencari sosok dirimu. Sampai-sampai mereka menjulukimu Miss K”.

“ Jinjjayo? Sampai sebegitunya?”.

Kyuhyun mengangguk, sementara aku justru menggeleng-gelengkan kepala. “ Tapi kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Aku hanya ingin menolongmu, tidak ada maksud apapun. Sumpah! Aku juga tidak berkomplot dengan orang yang mencoba mencelakaimu dan aku juga tidak menuntut apapun dari kalian”.

Kyuhyun melongo mendengar jawabanku. Kali ini dia yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ Hei, Agassi. Apa kau tidak mau diberi imbalan ataupun sekadar ucapan terima kasih? Kau ini aneh”.

Aku mengangkat bahu. “ Entahlah, aku merasa itu tidak perlu. Kau tenang saja, akukan sudah bilang kalau aku tidak akan menuntut macam-macam darimu. Jadi jika kau bersedia biarkan aku pergi. Maaf sudah menghalangi jalanmu. Jeosonghamnida”.

Kali ini Kyuhyun benar-benar melongo. Kesempatan ini kugunakan untuk melepaskan diri. Aku pun berusaha menjauh darinya dengan mempercepat langkahku. Sayangnya orang ini  kembali memanggilku.

“ Hei, Miss K. Katakan saja apa maumu. Akan kuberikan semua yang kau mau”. Mata Kyuhyun tampak memperhatikan sekelilingnya. “ Di sini banyak barang bagus dan mahal. Sebutkan saja maka akan kubelikan untukmu. Atau mungkin kau mau foto bersama dan tanda tangan dariku?”.

Darahku seketika mendidih. Aku berbalik dan berjalan ke arahnya. Gigiku gemeletuk menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.

“ Cho Kyuhyunssi, tampaknya kau benar-benar harus menjaga lisanmu! Dengar, aku menolongmu waktu itu karena aku memiliki rasa kemanusiaan untuk saling melindungi. Aku sudah bilang, aku tidak butuh ucapan terima kasih atau materi sebagai imbalan. Lebih baik sekrang kau pergi dari hadapanku karena kau sudah membuatku kesal dengan kata-katamu tadi. Satu hal lagi, aku bukan fansmu. Jadi aku tidak butuh berfoto atau tanda tangan darimu! Jeosonghamnida!”.

Aku berjalan dengan sangat cepat. Huh, sebal aku melihat tingkahnya yang sangat sok itu. Aku jadi menyesal telah menolongnya. Harga diriku terasa diinjak-injak oleh laki-laki sialan itu. Cih, semoga aku tidak berjodoh dengan laki-laki sejenis dengannya.

Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Anggap saja aku sedang sial. Gara-gara dia aku sampai lupa kaalu tujuan utamaku ke sini adalah untuk bersenang-senang. Baiklah, ayo kita lanjutkan lagi.

Di tengah perjalanan, tak sengaja aku melintasi toko peralatan musik. Mataku langsung tertuju pada sebuah grand piano bewarna putih. Tak sadar aku terus terpaku menatap alat musik yang anggun itu. Dari dulu aku sangat menginginkan piano, tapi entah kenapa ibuku selalu menolak untuk membelikannya. Dia bilang dibandingkan piano lebik mengoperasi wajahku hingga secantik Song Hye Kyo. Cih, ibu macam apa itu.

“ Wah, kalau maumu piano itu aku juga berat untuk membelikannya”.

Aku tersentak dan benar-benar kaget kalau Cho Kyuhyun ini masih ada di sampingku. Babbo, kenapa aku tidak menyadarinya ya?

Ia melirikku dan aku pun balas menatapnya. Tiba-tiba ia tersenyum.

“ Aku tahu. Ayo ikut!”. Tanpa kompromi lagi ia menarik tanganku dan aku pun ikut masuk ke dalam toko itu.

Ia menyuruhku untuk menunggu di dekat meja kasir. Sementara ia sendiri seibuk berbicara dengan seorang laki-laki paruh baya. Aku beranggapan laki-laki itu adalah pemilik toko ini. Aku jadi penasaran dengan obrolan mereka karena tampak serius sekali.

Aki tidak sadar kalau aku sedang melamun hingga sebuah suara dentingan piano menyadarkanku. Aku juga baru sadar kalau si Cho Kyuhyun itu sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. Sambil mencari-cari sosok orang itu, langkah kakiku juga ikut terseret menuju sumber suara.

Perhatianku kembali tertuju pada grand piano putih yang masih kokoh berdiri di sana. Namun yang paling mengejutkan adalah sosok yang memainkannya. Cho Kyuhyun. Ia terlihat sangat mempesona dengan permainannya itu. Meski aku tidak tahu lagu apa yang ia mainkan, tapi melodi itu terdengar sangat indah. Tanpa sadar ia telah berhasil menyentuh hatiku.

ooOoo

“ Aku harap itu cukup sebagai tanda terima kasihku”, ujar Kyuhyun seraya menyesap esspresonya. “ Aku tidak bisa membelikanmu piano sebesar itu, jadi kuwakilkan saja dengan melodiku tadi”.

Ahh, jadi begitu. Ternyata ia bisa membaca pikiranku. Anak ini manis juga. Aku pun jadi tersenyum kecil.

“ Kamsahanida”.

Kyuhyun menggeleng. “ Aniyo, kamsahanida”.

Aku tidak mengerti dengan maksud ucapannya. Ia sudah memainkan sebuah lagu untukku, setelah itu mengajakku ke coffe shop dan mentraktirku secangkir latte pula. Kenapa jadi dia yang berterima kasih padaku?

“ Dari ekspresi wajahmu terlihat jelas kau bingung dengan ucapanku. Baiklah, akan kuperjelas”. Kyuhyun menghela napas. “ Kau sudah menyelamatkanku tempo hari dan apakah kau tahu kalau pertolonganmu waktu itu berdampak besar dalam kehidupanku”.

“ Dampak besar?”.

“ Ya, seandainya waktu itu kau tidak menolongku pasti sudah terpatri sebuah luka besar di wajahku. Jika itu sampai terjadi, maka manajerku yang galak itu pasti akan menyuruhku berbaring lagi di ranjang operasi”. Kyuhyun kembali menghela napas. “ Jujur saja, aku trauma dengan yang namanya operasi plastik atau sejenisnya. Kau pasti tahu bagaimana orang-orang berjubah hijau itu menyayat-nyayat wajahmu dengan benda-benda logam yang sangat dingin. Brrr, membayangkannya saja aku sudah menggigil.

“ Nah, jadi sekarang kau sudah mengertikan arti penting dari pertolonganmu itu. Aku terus-menerus mencarimu karena aku harus bertemu denganmu. Bagiku mengucapkan terima kasih saja tidak akan pernah cukup. Harus ada balas budi yang setimpal dari semua hal yang telah kau lakukan”.

“ Semua hal yang pernah kulakukan?”. Dahiku mengerenyit heran. “ Aku hanya melakukan satu hal padamu. Kurasa kau harus meralat kata-katamu”.

“ Terserah, yang penting aku sudah balas budi padamu”.

Orang ini! aku mendengus kesal. Pernyataanya barusan seolah-olah ia telah melunasi seluruh hutang-hutangya padaku. Cih, sombong sekali.

“ Memangnya kau pikir semua itu sudah cukup?”.

Aku sengaja memancing emosinya dan dugaanku tepat. Ia tampak terkejut.

Mwo? Jadi kau meinta lebih?”.

Aku kembali mendengus kesal. “ Cih, pada awalnya aku sudah mengikhlaskan semuanya, tapi tutur katamu yang super sombong itu selalu membuatku menyesali karena telah menolongmu. Kalau saja kau lebih mengatur lisanmu itu, mungkin aku tidak akan meminta lebih padamu”.

Kali ini giliran dia yang mendengus kesal. “ Baiklah, sekarang apa maumu?”.

Aku sengaja mengulur waktukku untuk menjawab. Aku ingin tahu seperti apa reaksinya saat menanti sebuah perintah. Sebuah senyuman puas terukir di wajahku.

“ Ah, sudahlah. Aku tadi hanya bercanda. Sungguh, aku tidak meminta apa-apa darimu. Hanya saja aku ingin kau bersikap lebih lembut saja pada semua orang. Bagimu itu biasa saja, tapi tidakkah kau berpikir jika terkadang kata-katamu itu telah menyinggung banyak orang. mungkin karena itulah kau memiliki banyak antifans dan mungkin karena itu juga ada antifans yang ingin mencelakaimu.

“ Aku berharap kejadian waktu itu menjadi pelajaran untukmu. Jadi mulai sekarang pelankan suara dan perhaluslah kata-katamu. Jika kau melakukannya, aku yakin antifansmu bisa berkurang”.

Aku mengakhiri pidato panjangku. Latte yang mulai dingin itu pun perlahan kuhisap. Tapi lagi-lagi aku mendengar kalimat sinis keluar dari bibirnya.

“ Memangnya kau ini ibuku”,

Fuuh, capek sekali meladeni orang seperti ini. kuhabiskan latte itu dengan sekali teguk, kemudian kuraih tasku seraya memberikan salam padanya.

“ Terima kasih atas kopinya. Untuk pianonya aku juga berterima kasih. Jeosonghamnida”.

“ Hei, kau mau ke mana?”, cegahnya sebelum aku pergi. Aku pun terpaksa memutar tubuhku lagi untuk memberikan alasan.

“ Jika dengan memberikanku sebuah melodi bagimu adalah balas budi, berarti ya sudah. Semuanya sudah lunas dan berakhir di sini. Dari awal aku tidak menutut apapun, jadi sebenarnya kau tidak perlu melakukannya semua ini. Cukup atau tidaknya balas budinya itu terserah kau saja”.

Aku kembali melangkahkan kakiku, tapi lagi-lagi suara itu kembali menahanku.

“ Yaak, Miss K!”.

Aku terpaksa memutar tubuhku lagi. “ Han Da Eul imnida. Itu namaku, bukan Miss K”

Tampaknya ia tak memanggilku lagi. Kupercepat saja langkahku. Ukh, semoga itu pertemuan terakhir kami. Dasar orang aneh!

ooOoo

Kalau habis bertemu iblis biasanya akan sial, sama seperti hari ini. Tiba-tiba saja hujan turun dengan lebat ketika aku akan pulang. Pasti ini kutukan The Evil Kyu itu. Huh, berada di dekatnya selalu membawa sial untukku.

Aku memtar langkahku. Apa boleh buat, aku terpaksa menunggu di dalam mall. Namun hal mengejutkan terjadi. Aku bertemu kembali dengannya. Cho Kyuhyun…

Pura-pura tidak lihat Han Da Eul. Pura-pura tidak lihat. Omoo, aiish… sial, dia sudah melihatku lebih dulu. Kupercepat langkahku tapi nasibku sedang sial benar rupanya. Dengan cepat ia menarik lenganku seperti tadi dan upss… kenapa ini? Kenapa dia tiba-tiba memelukku. Aku berusaha melepaskan diri, namun dekapannya semakin kuat.

Jebal, tolong aku sekali lagi lagi”.

Aku berhenti memberontak. Dari suaranya terdengar amat serius dan memohon. Tak lama setelah itu aku mendengar derap langkah yang begitu ramai. Disaat yang bersamaan, laki-laki ini semakin membenamkan kepalanya di pundakku.

“ Tadi dia lari ke arah sini”.

Jinjjayo? Tapi ke mana dia pergi sekarang?”.

Ahh, fans rupanya. Belasan gadis-gadis yang tengah mencari idolanya itu terlihat kebingungan. Hmm, pantas orang ini tiba-tiba memelukku dan minta tolong. Ternyata susah juga ya jadi artis terkenal itu.

Tampaknya para fangirl  itu sudah tak terlihat lagi. Aku bisa mendengar desahan napas lega dari laki-laki ini. setelah itu ia melepaskan pelukannya.

“ Jeongmal kamsahanida”.

Aku hanya mengangguk kemudian beranjak pergi. Lagi-lagi orang ini menahanku.

“ Lepaskan! Aku mau pulang”.

“ Biar kuantar. Aku tahu di luar hujan deras, makanya kau kembali ke sini’kan?”.

Aku mendesah panjang. Tawaran yang sangat menggiurkan dan sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Kupandangi wajah si evil magnae ini. Tampaknya ia memang hendak berbuat baik. Ya sudahlah, kuberikan anggukan pasrahku sebagai tanda setuju.

Ia tersenyum, kemudian dengan santainya ia menggenggam tanganku dan menarikku dengan lembut. Heran, kenapa dari tadi aku menurut saja ya? Apa aku ini termasuk wanita murahan?

“ Kau diam saja? Ayo masuk ke mobil!”.

Aku tersentak dari lamunanku. Aku benar-benar tidak sadar kalau kami sekarang sudah di parkiran dan di depanku sudah ada mobilnya. Aku hanya nyengir seraya masuk ke dalam mobilnya.

 

 

Kesialan memang selalu datang beruntun. Baru saja aku tahu kalau hari ini terjadi badai taifun. Sialnya lagi ada sebuah pohon tumbang di jalan raya sehingga terjadi kemacetan panjang. Aiish… babbo. Kenapa aku tidak mendengar ramalan cuaca tadi pagi. Kalau tahu begini aku tidak akan pergi kemana-mana dan sekarang aku terjebak dalam kemacetan panjang ini. Bersama iblis ini pula. Siaaaal…

Tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu dengan bosan. Kami tak punya bahan bicara untuk diobrolkan. Selain itu kami juga habis bertengkar. Jadi hanya kebisuan yang bergentanyangan di sini. Akhirnya, Kyuhyun berinisiatif untuk menyalakan MP3 mobilnya dan bersenandung mengikuti alunan lagu.

Aku mendesah panjang. Lagu-lagunya hanya dari boybandnya sendiri. Semua orang tahu kalau aku kurang suka Suju, jadi aku tidak hapal lagu-lagu mereka. Dan sekarang aku seperti orang bodoh saja.

Tiba saatnya lagu dari Suju KRY yang diputar. Hei, aku suka yang satu ini. What if.Entah kenapa dari semua lagu Suju dari album pertama sampai yang sekarang aku hanya suka yang satu ini, hapal pula liriknya. Namun baru saja aku mau menikmati lagunya, Kyuhyun langsung mematikan MP3-nya

“ Kenapa dimatikan?”.

“ Aku lupa kau bukan fans kami. Tampaknya kau juga merasa risih dengan lagu-lagu ini”.

“ Tidak yang satu ini. Ayo putar lagi, aku suka lagu ini”.

Kyuhyun menatapku sebentar. Lalu ia menuruti permintaanku, bahkan membesarkan volume suaranya. Dan saat ini aku begitu menikmati lagu yang beraliran mellow ini. Suara Yesung, Ryeowook, Sungmin, dan si evil magnae ini mengalun indah. Aku terbawa suasana hingga tak sadar kalau lagunya sudah habis diputar.

“ Suaraku baguskan?”.

Aku tersentak. “ Mwo? Hahaha, maaf saja tapi aku lebih tertarik dengan suara Kim Ryeowook”.

Aku terkekeh pelan saat ia mendengus kesal mendengar pernyataanku.

Hening kembali…

“ Aku tidak tahu kenapa kau hanya suka dengan lagu yang satu ini. Jika memang benar kau suka Ryeowook Hyoung, kenapa tidak lagu One spring day saja?”.

Aku mengangkat bahu. “ Molla, aku hanya suka saja. Tidak perlu alasan khusus”. Aku berpikir sejenak. “ Hmm, mungkin makna lagunya yang menurutku romantis. Kalian juga membawakannya dengan penuh penghayatan. Aku juga sangat terkesan dengan falsetnya Yesung Oppa pada lagu itu”.

“ Meskipun begitu kau tetap tidak suka padaku?”.

Aku menggeleng lagi sambil tekekeh.

“ Eh iya, bisa tidak ya aku bertemu dengan Siwon Oppa?”.

“ Ada apa kau mau bertemu dengannya?”.

“ Hmm, aku mau mengembalikan jasnya. Waktu insiden itu, ia sempat memberikan jasnya untuk menutupi lukaku yang banyak sekali mengeluarkan darah. Jasnya terbawa olehku, tapi sudah kulaundry kok. Makanya aku ingin mengembalikannya sekaligus mengucapkan terima kasih”.

“ Lebih baik kau lelang saja untuk fansnya. Siwon Hyoung juga tidak akan ingat kalau itu miliknya. Dia itu memang punya banyak sekali baju, tapi tidak mengerti apa arti dari baju itu. Dia hanya beli untuk memenuhi isi lemarinya saja”.

“ Eh, kenapa begitu?”.

Kyuhyun terlihat seperti menahan tawanya. “ Kau lihat saja setiap konser ia lebih suka bertelanjang dada atau kalau diberi baju ia selalu merobeknya. Entah dia itu mau pamer abs atau lupa dengan mahalnya harga baju yang ia sobekkan itu. Yang jelas ia lebih nyaman bila tidak pakai baju”.

Aku tertawa mendengar gurauannya ini. Memang benar sih apa yang dia bilang. Dasar magnae super usil.

Aku kembali membisu ketika rasa humor itu telah habis. Sayup-sayup kudengar Kyuhyun melantunkan lagu tadi. Baru kali ini aku mendengar langsung suaranya. Tak kusangka suaranya bassnya begitu merdu.

Hei. Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar-debar???

“ Ehem, kau tidak sedang merayuku dengan suaramu agar aku menyukai boybandmu’kan?”.

Aniyo. Tiba-tiba saja aku menyukai lagu ini”.

“ Tentu saja. Inikan lagumu”. Dahiku pun berkerut.

“ Bukan, maksudku lebih menyukainya dari yang dulu. Rasanya sekarang sukaaa sekaliii…”.

What if naega geudael
Meonjeo mannasseoddamyeon
Ani charari na
Geudaereul mollasseoddamyeon…
Ireon saenggakdo naegen
Amu soyongi eobjyo
Gipsukhage bakhin
Geudaeraneun shigan soge
Imi salgo isseuni…

Kyuhyun kembali menyanyikan lagu itu. Kali ini terdengar lebih merdu dan menghanyutkan. Jika ada seorang fansnya yang mendengar ini, bisa dipastikan ia mengiba-iba bahkan mungkin bisa pingsan. Aku menatapnya. Ia sedang bernyanyi dengan pandangan lurus ke depan. Lama sekali aku memandangnya hingga tanpa sadar aku terhipnotis dalam alunan suaranya. Hatiku terenyuh. Waktu seolah-olah berhenti ketika wajah itu tertangkap dalam retinaku. Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini.

Merasa dirinya diperhatikan, ia balas menatapku. Responku kali ini melambat. Kami lebih dulu saling bertukar pandang. Aku bisa melihat ada bayangku ada dalam bola matanya. Nyanyiannya terhenti. Di tengah kesunyian ini suara jantungku berdebar dengan keras hingga aku takut terdengar olehnya.

Aku menurunkan pandanganku dan segera mengalihkan suasana. “ Ehem, kurasa suaramu memang bagus, tapi tetap saja aku tidak menyukainya”.

Ia tidak menjawab. Hal ini justru membuatku salah tingkah.

“ Kau tidak tanya kenapa aku jadi lebih menyukai lagu ini?”.

Aku mengangkat bahu. “ Wae?”.

“ Kau tahu apa arti dari what if?”.

“ Seandainya. Benar’kan?”.

Kyuhyun mengangguk. “ Kata ‘seandainya’ bisa digantikan dengan ‘jika saja’. Itu adalah kalimat pengandaian yang bermakna menganggap suatu hal mungkin terjadi dan sebagai syarat terjadinya sesuatu”. Kyuhyun bergeming sejenak. “ Kau tahu, banyak sekali kata andai yang terjadi di dunia ini”.

Aku kembali mengangkat bahu. Kali ini aku tidak mengerti apa maksud kalimatnya, tapi aku teringat akan suatu hal.

“ Definisimu tentang kata andai itu sungguh rumit. Tapi jika kejadian kata andai di dunia ini memang banyak. Contohnya aku. Seandainya aku menonton ramalan cuaca, kurasa aku tidak akan pergi hari ini. Jadi aku tidak terkena badai dan macet yang menyebalkan ini”.

“ Ah, tidak. Seandainya aku tidak memilih tempat ini sebagai tujuanku aku juga tidak perlu bertemu denganmu dan terjebak di dalam mobil ini. Cih…”

Kyuhyun tersenyum sinis. “ Apa ada lagi kata pengandaimu?”.

Aku berpikir sejenak. “ Hmm, kurasa seandainya dulu temanku tidak sakit aku tidak perlu datang menggantikannya ke acara jumpa fansmu. Seandainya juga kau tidak  bersikap angkuh saat aku meminta tanda tanganmu, mungkin aku juga tidak terlalu membencimu. Dan seandainya wanita aneh itu tidak menyerangmu, kurasa insiden itu juga tidak perlu terjadi dan seandainya―”

“ Seandainya kau tidak datang, maka tak ada yang menolongku. Seandainya kau tidak menolongku, maka aku masih terbaring di rumah sakit. Seandainya kau tidak terluka, maka aku tidak perlu mencarimu. Dan seandainya aku tidak mencarimu, maka aku tidak pernah bertemu denganmu lagi”.

Dahiku berkerut. “ Apa maksudmu?”.

“ Kau tahu seandainya aku tidak bertemu denganmu lagi, maka aku tidak akan pernah mendapat perasaan ini…”

Waktu kembali berhenti berputar. Aku merasa begitu gugup menantikan kelanjutan kalimatnya.

“ Kuakui aku terpesona sekaligus terkejut dengan sikapmu yang berani menolongku waktu itu. Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi sejak saat itu aku tak bisa melepas bayangmu. Kau bahkan hadir dalam mimpiku. Maka dari itu aku bertekad mencari dirimu, hingga Tuhan menakdirkan kita bertemu di sini”.

Aku tertegun. “ Jadi kau benar-benar mencariku?”.

Kyuhyun tak langsung menjawabnya.  Ia sengaja mengulur waktu yang membuatku semakin penasaran, hingga ia menatapku. Tatapan itu membuat wajahku memanas. Aku tak kuasa untuk membalas tatapannya itu. Namun saat aku memalingkan wajah, ia menarik daguku hingga kami pun bertatapan lagi.

“ Ya, aku benar-benar mencarimu”.

Aku menelan ludahku dengan sangat susah payah. Napasku terasa sesak.  Orang ini, kenapa ia bisa membuat komplikasi penyakit yang begitu tiba-tiba?

“ Han Da Eul… seandainya kita tidak pernah bertemu sebelumnya, apa menurutmu perasaanku yang sekarang akan menjadi sia-sia? Dan bagaimana jika seandainya saat ini aku jadi jatuh cinta padamu?”.

Kau? Cho Kyuhyun? Suka padaku? Aku merasa udara di sekitarku lebih sesak dari sebelumnya. Irama dan detakan jantungku berhenti pada hitungan yang sama. Dan kelopak mataku kehilangan kemampuan untuk berkedip. Aku terpaku, bergeming, dan mematung.

Tampaknya laki-laki ini justru menikmati reaksi tubuhku yang menjadi aneh. Ia semakin memamerkan senyuman manisnya yang membuatku semakin bereaksi aneh.

“ Kau, kau, kau pasti bercanda”, ujarku dengan terbata-bata.

“ Apa ini tandanya kau juga mencintaiku?”.

Aku terkesiap. “ Yaak, percaya diri sekali kau! Kau pikir aku akan menjawab seperti itu?”.

“ Mungkin saja. Kau terlihat seperti mempunyai jawaban positif untukku”. Senyuman Kyuhyun berubah menjadi seringai usil.

Omoo, orang ini ya! “ Yaak, Cho Kyuhyun. Memangnya apa yang membuatmu suka padaku? Sudah jelas-jelas aku tidak menyukaimu. Aku juga yakin kalau aku ini bukan tipe wanita yang kau cari”.

Kyuhyun mengangguk-angguk setuju. “ Ya, kau benar. Kau bukan tipe gadisku. Kau juga bisa digolongkan antifansku. Kenapa ya aku jadi suka padamu?”.

Aku mendengus kesal. Kenapa orang ini justru mengulangi pertanyaanku?

“ Hmm, mungkin kau adalah suatu hal yang masih kucari dalam hidupku. Jujur saja, aku belum pernah bertemu dengan wanita yang terlalu polos sepertimu. Kepolosanmu itulah yang membuatku terpesona padamu dari pertama kali kita bertemu. Meski kau menyebalkan dan cerewet, tapi tak satu pun dusta yang keluar dari bibirmu. Mungkin karena itulah aku jadi suka padamu”.

Kyuhyun kembali menatapku. “ Apa jawabanku cukup mewakili pertanyaanmu, Agassi?”.

Baiklah, sekarang aku sudah bisa bernapas dengan normal, tapi masalahnya wajahku kini berubah seperti udang rebus. Aku tak berani membalas tatapannya dengan wajah seperti ini. Tapi orang ini memang benar-benar usil. Ia sengaja memandangku lekar-lekat sehingga mau tak mau aku harus menatap balik.

“ Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku bukan wanita yang bisa kau permainkan!”.

Ekspresi Kyuhyun terlihat marah. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
“ Apa menurutmu aku sedang main-main? Sekarang ini aku sangat serius!”.

Aku membuang pandanganku ke jendela. Syukurlah, mobil yang kutumpangi ini bisa berjalan juga. Jalanan sudah mulai terbuka dan satu-persatu kendaraan mulai bergerak. Dengan gesit Kyuhyun menjalankan mobilnya. Emosinya terpancar jelas dari sorot matanya. Mungkin ia kesal karena aku telah meragukannya. Apa boleh buat, aku hanya waspada saja terhadap orang yang baru dikenal.

Hingga sampai di depan rumahku, tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Aku pun beranjak turun dari mobilnya seraya mengucapkan terima kasih sebagai bentuk sopan santun.

Gomapseumnida, maaf telah merepotkanmu”.

Aku menunggu balasan darinya. Tak ada respon. Baiklah, kuberikan salam terakhirku dan segera turun dari mobilnya.

“ Han Da Eul!”.

Aku kaget saat melihat ikut turun dan mengejarku. Aku kembali bergeming. Jujur, aku terpesona saat ia meraih lenganku.

“ Jawablah pernyataanku tadi. Sungguh, aku tidak sedang mempermainkanmu. Naega jeongmal saranghae…”.

Ada gemuruh di dadaku yang bergetar sungguh hebat. Cupid-cupid di sekitarku tengah menembakkan panah asmara dan membisikkan cinta untukku. Aku pun menjadi gamang dengan perasaanku sendiri.

“ Emm, seandainya kita mengatakan tidak untukmu apa kau―”

“ Tapi aku terlanjur bernapas dalam waktu yang kau miliki”.

Jawaban Kyuhyun barusan membuat satu keyakinan untukku. Tiba-tiba saja sebuah senyuman terukir di wajahku. Aku tertunduk malu. Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku sendiri. Ya, kurasa aku juga suka padanya.

“ Kalau memang begitu jawabanmu, maka kuizinkan kau hidup di dalam waktuku. Cho Kyuhyun, kurasa aku juga telah terjebak dalam waktu yang kau miliki”.

Tampaknya ia cukup romantis untuk mengerti kata-kata yang kuucapkan. Ia membalas senyumanku. Aku merasa hangat sekarang karena aku sudah berada dalam pelukannya. Ia memelukku dengan sangat erat, seolah sedang melepas kerinduan yang amat mendalam.

“ Kurasa kau harus merubah sikapmu dulu sebelum kita benar-benar menjalani hubungan ini”, kataku seraya melepas pelukannya.

Seringai jahil itu kembali terukir. “ Arraseo, Halmeoni”.

Aku melotot, tapi hal itu justru membuatnya tertawa. Huh, pria ini benar-benar menyebalkan!

“ Sudahlah, ayo masuk dan perkenalkan aku pada ibumu”.

Mwo? Secepat itu?”. Aku menggeleng-gelengkan kepala. “ Kurasa ibuku akan terkena serangan jantung”.

Kyuhyun merangkul pundakku. “ Sudah, kenalkan saja. Kurasa ibumu akan terpesona melihat pacar anaknya”.

“ Cih, kau ini!”.

 

ooOoo

Kurasa kata jika bukanlah kata yang buruk…

Kata jika terkadang membuat hidup menjadi indah…

Karena dengan kata jika hal indah bisa terjadi melalui mimpi yang tak pernah kau duga sebelumnya…

 

Fhanee_La

Palembang, 28 Mei 2012, 21.59

 

ooOoo

Terima kasih kepada admin yang sudah berbaik hati menampilkan FF ini, dan untuk para pembaca, terima kasih sudah membaca tulisan saya. Kritik dan sarannya bisa dilayangkan di twitter saya (udah ditulis di atas ^_^).

Sekali lagi TERIMA KASIH….

5 comments on “(Fanfict) What If

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: