(FanFict) Don’t Have A Heart

Published 21/06/2012 by askarein

Title: Don’t Have A Heart

Author: Ty ChangMinholic SiwonniElf CassieShawol

Length:  Oneshoot

Genre: Sad Romance

Rating: PG-15

Casts:

–          Choi Minho (SHINee)

–          Kang Hyeseul (OC)

** Annyeong popoders,, ini adalah ff salah satu temen aku. aku suka bgt sama ff bikinan dia n dia bersedia buat nyumbangin ff nya buat di post di yeppopo. Thank you so much buat ty,, love you saeng. buat popoders yang udah baca ff ini jangan lupa komen ya, hargai lah fanfict2 buatan para author yang udah bersedia nyumbangin ff nya di yeppopo.. gomawo 🙂

Hawa dingin menusuk tulang membuat tubuhku menggigil. Angin kencang pada musim dingin seakan menampar wajahku yang sudah memucat. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, tepat dua jam setelah waktu kepulanganku dari tempatku bekerja. Itu berarti dua jam sudah aku berdiri di bawah sebuah pohon rindang yang berada di pinggir jalan kota besar Seoul.

Perlahan aku dapat melihat satu demi satu butiran-butiran halus salju berjatuhan dari langit, sedikit demi sedikit menutupi jalan setapak yang sekarang kupijak. aku menggigil kedinginan, meniup jemariku yang tidak dibungkus oleh sarung tangan hangat. Memang, aku tidak mengira akan ada salju yang turun malam ini, makanya aku tidak mengenakan sarung tangan hangatku yang sudah pasti akan membuat kesepuluh jemariku ini akan terasa hangat jika menggunakannya.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kendaraan masih ramai berlalu-lalang di jalanan, tapi para pejalan kaki mulai berkurang. Hanya segelintir orang yang lewat bersama pasangan atau teman mereka menggunakan payung dan sarung tangan nyaman.

Aku menatap mereka iri sambil menarik napas dalam. Apalagi ketika melihat sepasang kekasih yang berbagi payung dengan pasangan mereka.

Mataku mulai berair, dan hidungku memerah. Tenggerokanku tercekat seperti ada seonggok daging yang menyumbatnya. Selalu seperti ini, hampir setiap malam aku hanya mendapat janji palsu dari pria itu. sakit. Sungguh, hatiku sangat sakit diperlakukan seperti ini setiap hari. Merasakan perih yang sama berulang-ulang.

Forget it. We’re over.

I don’t need a guy like you.

If you’re going to be like this, why me?

Play around with other girls…

Choi Minho. pria itu sudah berjanji akan menjemputku sepulang aku kerja, tapi selalu saja seperti ini. ia membiarkanku menunggu selama berjam-jam di tengah cuaca dingin yang bisa saja membunuhku, ditambah lagi aku hanya berdiri seorang diri menunggunya seperti orang bodoh. Bagaimana jika ada pria mabuk yang mengangguku?

Aku menengadahkan kepala untuk menghalangi air mata yang sebentar lagi akan tumpah, menatap rimbunnya dedaunan yang menutupi beberapa cabang pohon. Ranting-ranting itu bergoyang, mengikuti arah angin bertiup. Aku memaksakan seulas senyum di wajahku—yang kurasa sudah seperti mayat hidup.

Aku, Kang Hyeseul seorang gadis berusia 22 tahun, mahasiswi Kyunghee University. Satu tahun yang lalu, seorang pria menyatakan perasaannya padaku. sungguh, saat itu aku sangat tergila-gila padanya. bagaimana tidak, seorang Choi Minho salah satu mahasiswa yang selalu diidolakan oleh kaum hawa di Universitas tempatku menuntut ilmu memintaku menjadi pacarnya. Dan semua itu tidak dengan cara yang biasa-biasa. Selama dua bulan ia menajalani pendekatan denganku, hingga akhirnya ia menyatakan perasaannya di sebuah Villa yang bertempat di atas bukit indah.

Dan bodohnya lagi aku malah termakan oleh kata-kata manisnya. Tiga bulan pertama kami berpacaran semua baik-baik saja, ia selalu perhatian padaku, mengantar jemputku kuliah sekaligus kerja, dan selalu menyempatkan diri meneleponku hanya untuk menanyakan keadaanku. Tapi ketika memasuki bulan ke empat semuanya berubah. ia bukan Choi Minho yang kukenal. Seperti saat ini, ia berjanji kali ini akan menjemputku sepulang kerja, tetapi ia sama sekali tidak datang. Sebelum-sebelumnya juga selalu seperti ini.

Aku pikir ia sudah berubah, tapi ternyata sama sekali tidak. Ia bukan berubah, melainkan menampakkan sifat aslinya. Aku baru menyadari bahwa selama berpacaran dengannya aku sama sekali tidak mengenalnya. Ia selalu memakai topeng. Topeng seorang pangeran berkuda putih yang terlihat sangat memesona di mata setiap gadis.

Memang setiap kali jalan berdua denganku, aku merasa ia hanya melihat ke arahku. Merasa seakan akulah gadis paling beruntung di dunia ini karena pria seperti Minho telah memilihku sebagai tambatan hatinya. Tapi lagi-lagi aku salah. bukan hanya aku gadis yang ia miliki, entah itu berapa gadis yang ia kencani selama masih menjalin hubungan denganku. Bahkan aku yakin ia tak pernah sekalipun menempatkanku pada salah satu sisi hatinya. Ia tak pernah memberiku ruang di hatinya. Atau bahasa kasarnya, ia hanya menjadikanku salah satu dari sekian banyak koleksi gadis miliknya.

When the phone rings, you look at me,

And tell me it’s your mom,

And answer it outside.

Telling me you need to go home asap,

You meet another girl…

Aku terkekeh pelan, masih menatap ranting-ranting yang bergoyang, membiarkan angin menampar wajahku dengan lembut.

Kupikir aku sama seperti ranting-ranting itu. bergerak kemanapun arah angin meniupnya, tidak dapat menolak, ataupun memberontak.

Itulah aku.

Meskipun aku tahu Minho mengencani beberapa gadis lain di luar sana selain aku, tapi aku tidak dapat mengeluarkan kata protes sedikitpun. Aku hanya berpura-pura tidak tahu dan mengikuti permainan cintanya. Ke mana akan ia bawa hubungan kami ini, menunggu apapun keputusannya.

Apakah aku bodoh? Ya, aku memang bodoh. Mungkin aku adalah gadis terbodoh di antara gadis-gadis yang telah dikencani Minho. karena menurut informasi yang kudapat, para gadis yang Minho kencani selama ini hanya dapat bertahan tiga bulan paling lama, dan mereka langsung memutuskan hubungan.

Itulah mengapa aku mengatai diriku gadis terbodoh yang bisa bertahan selama satu tahun dengannya. Aku menjadi bodoh hanya karena seorang Choi Minho. karena aku takut kehilangan pria itu meskipun aku tahu hubungan ini tidak akan berhasil. Aku hanya akan mendapatkan rasa sakit setiap harinya.

Such obvious lies.

Just shut it now.

Why didn’t you tell me you have a girlfirend?

Did you think i wouldn’t know?

Do i look stupid to you?

Aku memejamkan mataku, merasakan lelah yang telah menghantuiku selama beberapa bulan terakhir.  Kubiarkan air mata bening itu tumpah, mengalir menganak sungai di kedua pipiku yang memerah.

Aku mulai berpikir, tidakkah aku hanya membuang-buang waktu dengan terus mempertahankan hubungan ini? tidakkah aku telah menyia-nyiakan masa mudaku begitu saja hanya karena seorang Choi Minho?

Aku berjongkok sambil memegang dadaku yang bergemuruh hebat sambil terisak pelan. Napasku tersengal-sengal seakan tak ada cukup oksigen di sekitarku.

Apakah aku harus mati saja agar tidak merasakan sakit ini lagi? Sungguh, aku tidak sanggup sama sekali mengucapkan kata putus padanya. aku tidak bisa berpisah darinya. Seakan setengah dari hatiku sudah kuberikan padanya, dan aku sama sekali tidak bisa hidup dengan hati yang sudah tidak utuh. Aku memerlukan sebagian dari hatiku yang sudah kuberikan itu.

You’re funny.

Do you think you’re the only guy in earth?

Grabbing my hand like that is useless…

Aku merasakan sebuah tangan memegang kedua bahuku, memaksa tubuh lemahku untuk berdiri. Namun keengganan menyergapku, kepalaku sama sekali tidak mau terangkat dan aku hanya dapat menyembunyikannya di kedua lututku. Tidak peduli siapa orang ini, yang pasti aku sedang tidak ingin diganggu.

Dengan suara serak aku menyuruhnya untuk pergi. “aku tidak apa-apa, jangan mengurusiku!”

Kudengar helaan napas keras dari bibirnya, lalu ia menarik tangannya dari bahuku. Tapi kurasa sekarang ia malah berjongkok di hadapanku dan berusaha mengangkat kepalaku.

Namun aku tetap pada pertahanan awal, tidak mau menunjukkan wajah burukku di depan orang ini.

“tolong lihat aku Hyeseul-ah.”

Suara berat itu, aku sangat mengenalnya. Suara yang selama satu tahun belakangan ini selalu mengisi hari-hariku. Suara yang bisa membuatku bersemangat dengan seketika hanya dengan mendengarnya berbicara.

Kepalaku terangkat dengan terpaksa dan menatap mata bulat yang meneduhkan itu. air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir dengan derasnya. Luka di dalam hatiku menganga semakin lebar, memberikan rasa perih yang teramat sangat.

“jangan menangis, maafkan aku…” ujar Minho seraya merengkuhku ke dalam pelukkan hangatnya.

Aku berusaha menolak, mengabaikan kehangatan yang ia berikan namun tetap saja tidak bisa. Rasa hangat ini menjalar ke seluruh tubuhku, menggantikan hawa dingin yang tadi sempat menyerangku. Bibirku bergetar dengan hebat, hatiku tidak sejalan dengan logika. Aku ingin berada di dalam pelukkannya lebih lama lagi. Tuhan tolong…hentikan waktu, biarkan keadaan tetap seperti ini. jika memang ini terakhir kalinya aku dapat merasakan pelukan hangatnya, biarkan aku merasakannya lebih lama lagi.

Minho memeluk tubuhku semakin erat seiring dengan getaran hebat yang melanda seluruh tubuhku. Aku menangis sejadinya dalam dekapan pria yang sangat aku cintai ini, membiarkan diriku menjadi lemah di hadapannya untuk kali ini saja sebelum semuanya berakhir.

“jangan menangis, maafkan aku…”

Ia terus menerus mengulangi kalimat itu, membuatku semakin tidak rela untuk melepaskan pria ini. ia begitu berarti dalam hidupku, melebihi emas permata. Dia cinta pertamaku. Kuharap ia menjadi yang terakhir, namun sepertinya takdir berkata lain. Mungkin sampai kapanpun ia tidak akan pernah memberikan hatinya padaku. begitu banyak wanita yang lebih cantik dan lebih menarik dariku, jadi sungguh mustahil rasanya ia hanya akan melihatku.

Aku hanyalah seorang gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana dan harus menghidupi seorang adik yang mengikuti jejakku untuk bersekolah di Seoul. ayah dan ibuku hanyalah seorang buruh pabrik. Jadi tidak sepantasnya aku mengharapkan balasan cinta dari pria yang begitu sempurna ini.

I hope that one day you meet a woman just like yourself,

And become like me.

Setelah memantapkan hati, aku berusaha keras untuk melepaskan diri dari pelukkan Minho meskipun rasanya begitu berat. Sejenak, kutundukkan kepalaku sedalam mungkin, menghapus air mataku, dan memasaksakan seulas senyum yang malah terlihat aneh pastinya. Lantas kuangkat kepalaku perlahan, mempertemukan kembali kedua manik mata hitam kami.

Kurasa saat ini hatiku sudah tidak berbentuk lagi, luka borok akibat perbuatannya akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Kuputuskan akan menutup hatiku rapat-rapat bagi pria seperti dirinya.

Ia membuka mulutnya hendak mengucapkan sesuatu, namun dengan cepat kutempelkan jari telunjukku pada bibirnya.

“ssst…tak perlu mengucapkan apapun. Aku mengerti, kau tidak perlu merasa bersalah. Seharusnya aku sadar diri sejak dulu bahwa aku tidak pantas untukmu…”

“Hyeseul-ah…”

“…aku hanya seorang gadis biasa, tidak menarik sama sekali untuk seorang Choi Minho yang begitu sempurna. Padahal kau dikelilingi gadis-gadis yang cantik dan seksi, yang lebih pantas bersanding denganmu…”

“Hyeseul-ah…”

“…jadi, aku sudah memikirkan keputusan ini, mungkin inilah yang terbaik buat kita. Untuk masa depan kita masing-masing. Jika kau kutahan terus menerus mungkin kau tidak akan mendapatkan wanita yang cocok untuk dirimu.”

Aku menarik napas panjang. Ia sudah tidak menyela ucapanku lagi, dan sepertinya sedang menunggu apa yang akan kukatakan. Senang kau Choi Minho? senang karena sebentar lagi akan berpisah dariku? Ini kan yang selama ini kautunggu-tunggu untuk kuucapkan?

“kita akhiri saja semuanya. hubungan yang kita jalani selama satu tahun tidak ada jalan sama sekali untuk dilanjutkan. Aku menyerah…kau bebas Minho-ah. Kau senang?”

Kataku berusaha untuk tidak meneteskan satu titikpun air mata. Tapi rasanya semua itu sia-sia, karena bagaimanapun kerasnya aku berusaha untuk tidak menangis, pertahananku tetap roboh juga. Kugigit bibir bawahku agar tidak mengeluarkan isakan.

I must be crazy, insane.

Getting deceived again and again.

I’m sick of it.

Minho. mata pria itu berkaca-kaca. Entah aku salah lihat atau ia memang sedang menahan tangis juga, tapi yang pasti matanya memerah.

Aku berdiri dari posisiku yang berjongkok dan menatap ke jalan raya dengan pandangan kosong. Minho juga ikut berdiri, dan hendak memegang bahuku lagi, namun sesegera mungkin aku menghindar.

“maaf sudah membuatmu susah selama satu tahun ini. meskipun aku berharap hubungan ini masih bisa dilanjutkan, tetapi hatiku sudah terlalu sakit. Aku tidak sanggup lagi, aku lelah dengan semua ini.” kembali aku menghela napas berat dan melanjutkan kalimatku lagi. “semoga kau bahagia Minho-ah. Aku harap kita masih bisa menjadi teman. Jika suatu hari nanti kita bertemu setelah hatiku sudah agak tenang, tolong tegur aku. Biar bagaimanapun kita berpisah dengan cara baik-baik. Mungkin untuk sementara waktu ini aku akan pulang ke tempat orangtuaku sampai aku merasa lebih baik. Jaga dirimu, jangan sampai terlambat makan seperti saat itu. aku tidak mau maag-mu kambuh dan harus dirawat di rumah sakit.”

“apakah jika maag-ku kambuh kau akan menjengukku dan merawatku seperti dulu?” tanya Minho tiba-tiba membuatku terkejut.

Aku menatap kedua mata bulatnya yang masih terlihat berkaca. Kupikir itu hanya aktingnya saja. sebenarnya aku berat mengatakan hal ini, tapi pada kenyataannya seorang playboy pasti mempunyai banyak taktik untuk terlihat bahwa ia sangat sedih dengan perpisahan ini padahal sebenarnya ia merasa sangat senang.

Dan pada akhirnya aku menggeleng. “tidak. Itu sudah bukan tugasku lagi. Aku hanya akan mengingatkanmu agar jaga kesehatan.”

Minho terdiam. Ia memundurkan langkahnya dengan kepala tertunduk. Melihat itu aku benar-benar tidak tega, aku ingin memeluknya. Memeluknya dengan erat dan mengatakan lupakan saja kata-kataku barusan dan mari melanjutkan hubungan ini. tapi aku tidak mau merasakan sakit itu lagi. Sudah cukup sampai di sini, aku tidak bisa jika terus-terusan begini.

“aku pulang dulu Minho-ah, maaf sudah merepotkanmu.”

Kulangkahkan kakiku perlahan meninggalkan tempatku berdiri bersama Minho sebelum akhirnya tangan pria itu mencengkeram erat pergelangan tanganku.

“biar kuantar kau pulang. Ini sudah malam dan cuaca juga sedang tidak baik.”

Suaranya terdengar serak, dan lagi-lagi aku terdiam di tempat. Mencoba menelaah ke dalam mata bulatnya yang meneduhkan.

Aku melirik mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sini. Sebenarnya aku mau saja mengiyakan, namun aku juga tidak ingin berubah pikiran dan kembali padanya jika berada di dekat Minho lebih lama lagi.

“tidak perlu, aku bisa pulang dengan jalan kaki. Lagipula tempat ini tidak begitu jauh dari apartemenku.”

Kulepaskan cengkeraman tangannya dengan enggan dan melangkah dengan cepat meninggalkannya. Kali ini tidak akan kubiarkan ia menahanku lagi. Aku tidak boleh termakan oleh kata-katanya lagi.

I’m not interested in you anymore.

Do you think i’ll turn back if you cry?

Don’t even think about grabbing me.

(Minho PoV)

Aku menatap punggungnya yang kian menjauh, membiarkannya pergi dari hidupku. Dapat kulihat bahunya bergetar hebat. Ia menangis. Tak bisakah aku memeluknya lagi untuk menenangkannya? tak bisakah aku mengulang waktu?

Kenapa kau tidak menunggu lebih lama lagi Kang Hyeseul? aku baru saja mau mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis yang tidak menarik sepertimu. Kau unik, kau berbeda dari gadis-gadis lain, kau tetap sabar berada di sisiku meski kau tahu aku selalu membuatmu terluka. Tapi aku sadar, semua itu memang ada batasannya. Aku tahu kau tidak mungkin bertahan dengan sikapku yang seperti ini. aku selalu mengacuhkanmu padahal kau begitu perhatian padaku.

Maafkan aku karena sekali lagi aku terlambat untuk menjemputmu. Tapi tahukah kau kalau aku terlambat karena berusaha sekeras mungkin untuk memutuskan hubungan dari gadis-gadis yang kau sebut lebih seksi dan lebih cantik darimu itu? aku hanya menginginkanmu saja. mereka sama sekali tidak cocok untukku. Mereka tidak mencintaiku, mereka hanya mengagumi ketampanan dan hartaku. Mereka tidak sepertimu yang mau menerima kekuranganku. Bahkan ketika aku dirawat di rumah sakit karena penyakit maag-ku kambuh, hanya kau seorang yang selalu merawatku dengan baik. Tak ada satupun dari mereka yang datang hanya untuk sekadar menjengukku.

Maafkan aku….

Kuharap suatu hari nanti, saat kau sudah bisa menenangkan hatimu dan tidak ada kecanggungan saat bertemu denganku lagi, kita bisa bersatu kembali.

Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan menunggumu Kang Hyeseul. jangan pernah lupakan aku…

~**~THE END~**~

18 comments on “(FanFict) Don’t Have A Heart

  • Minho-oppa babo nih cewek sebaik itu disiasiain, pas udah mau nyatain lagi udah keburu sakit tuh ceweknya *emosi* keren chinguuu

  • astaga aku geregetan bgt sama si minho itu,, kasian hyeseul nya. bener2 mau nangis baca ni ff coz ngebayangin klo diposisi yeonja’a gimana itu ya. hikhikss
    nice ff thor, keren loh chingu ff’a walaupun sad end 🙂

  • yaaa ampun.. sumpah nyesek saya bacanya… aiiih si minho babo kenapa ga di tahan trus loe ungkapin perasaan mu minhoo???
    aiih sad ending ini.. adakah sequelnya?? berharap ada sequel untuk ff ini.. good job author.. aku suka.. feelnya dpt bgt..

  • astagaaaaaaaaaaaaaaaaaa gw nangis sodara sodari kaia org bego baca nih FF pagi2 d’kantor haghaghaghaghaghag sumpah nyesek serasa gw yg ada d’posisi Hyeseul ckckckckckcckckckkk wahh nih FF bener2 bikin hati b’gerak DAEBAK !!!!!!!!!!!!!!!!!!1

  • huuuuaaaaaa why must sad end?! really dont like sad end!!!!!

    tapi mantappp kata-katanya thor.. mengalir banget.. suka banget yang “angin menampar pipiku”… tapi sumpah keren banget ngettt ngeetttttt

    • iya sama2 saeng, bener2 sedih baca ff mu ini aku sampe ngerasa baca novel karna kata2 mu yg bagus bgt di ff ini. hayooo tanggung jawab ya udah bikin reders’a pada nangis.. hehehe
      squel dong saeng klo ada.. 😉

  • aku penasaran bacaaaa… dan emang sedih bangettttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
    huaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh aku beneran nangis lohhhhhhhhh huhuhuhu
    MINHO! dasar jahaattt… ayo kembalilah padaku.. eh pada cewek itu.. huhuu
    daebak loh ceritanya..^^

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google

    You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: