(Fan Fict) OURS -One Shoot

Published 26/05/2012 by kimtae

Annyeong haseyo chingudeul-ah ^^ *bow*

Oke ini ff khusus author kirimkan untuk meramaikan Yeppopo~ Semoga suka ya! Oh iya sebelum nya, Oneshoot ini –Pernah Di POST- sebelum nya di Facebook. Tepat nya di salah satu Page milik Author sendiri (@K-Pop Indonesia –Special STARS-). Jadi, ini murni punya author! Bukan Plagiat atau apa ya… Dan ini sedikit mengalami –Perubahan-.

Mungkin sesuatu bnget karena admin gak pake nama buat pemain cewek nya ataupun yang berperan jadi sahabat nya. Admin pake sudut pandang yang sesuatu banget. Lagi belajar gitu hahaha
Jadi anggap ajh itu chingu yang sedang berperan~ hehehe
Oke sekian!!
ketemu di bawah yaaa entar ^^) MIAN FOR TYPO!!!

=HAPPY READING=

*****

OURS [ONESHOOT]-

Cast : YOU
Your Best Friend
Kim KiBum [Super Junior]
Park SangHyun [MBLAQ]



“Kita……”

Itu salah satu kata yang sering ia ucapkan untuk mu. Mengusir semua ketakutan yang kau rasakan. Menenangkan semua nya dengan kalimat dari bibir nya yang lembut. Dan kau hanya bisa tersenyum. Tersenyum pahit saat kata-kata itu kembali berbunyi di sudut batin hati mu.

Dengan pelan kau mengambil nafas. Merasakan entah sudah berapa banyak air mata yang mungkin jatuh karena nya. Sudah berapa banyak kesedihan yang kau keluarkan dari kedua bola matamu itu.

“Ours….”

>>><<<

Kau  berjalan gontai kesalah satu sudut ruang kamar mu. Menghela nafas berkali-kali saat sebuah surat berbentuk persegi tampak jatuh dari genggaman mu. Dengan pelan kau menutup mata. Merasakan sebuah cairan itu kembali jatuh. Sakit. Itu yang kau rasakan sekarang.

Batin mu kembali bertanya-tanya. Kenapa ia selalu membuat mu sakit?! Kenapa ia selalu menorehkan sebuah luka di relung hati mu dan pergi begitu saja tanpa mengobati nya?! Apa kau adalah gadis yang sungguh sangat bersalah untuk hidup dan di cintai?! Apa kau hanya seorang gadis yang memang hidup untuk disakiti dan mengeluarkan berjuta air mata kesedihan?! Apa kau hidup untuk itu dan tetap bertahan untuk hal tersebut?!

Kau tampak menunduk. Berusaha menghentikan tangisan mu yang sejak tadi meledak. Kau tau bahwa kau lah yang mungkin memang salah atas semua masalah ini. Kau lah yang memang membuat nya seperti ini tapi tanpa pernah kaulah yang  menyadari semua nya.

Kau tampak sesegukan. Terperosot kelantai kamar mu yang dingin tanpa sebuah kehangatan. Memeluk kedua kakimu berharap bisa menenangkan segala nya. Segalanya. Semua yang tengah terjadi sekarang.

*****

“Perkenalkan.. ia sahabat ku” ucap mu tersenyum lebar. Memperkenalkan sesosok yang kau anggap “sahabat” kepada seorang di hadapan mu kini.

Kau tampak melihat nya. Melihat sesosok lelaki yang sejak dulu kau sukai dan beruntung kau tengah dekat dengan nya kini. KiBum.

Lelaki itu tampak mengangguk mengerti. Tersenyum tipis kearah sahabat mu yang kini tengah berdiri diam menatap nya sedikit takjub. Kau tampak menyenggol lengan nya pelan. Membuat nya seakan kembali ke alam sadar nya. Dan ia hanya memberi mu sebuah cengengesan kecil yang membuat mu tampak menggeleng pelan.

Dan dengan pelan kau tampak berpisah dengan lelaki kenalan mu yang mungkin beberapa waktu kedepan ia akan menjadi “Calon namjachingu” mu.

“dia tampan” dengan cepat kau berbalik menatap sesosok sahabat mu itu. Membulatkan sedikit mata tanda tak percaya bahwa sahabat mu itu memuji sesosok namja yang sejak dulu kau sukai.

“kau dekatkan dengan nya?” suara dari sahabat mu tampak menggema. Membuat mu mengangguk pelan dan sedikit menunduk.

“jodohkan aku dengan nya!”

DEGGGG

Perkataan sahabat mu sukses membuat langkah mu terhenti. Seakan berdiri mematung dengan tak percaya.

“wae?” ia tampak bertanya kearah mu saat ia tau bahwa kau mendadak berhenti dibelakang nya. Tapi dengan cepat kau tampak menggeleng pelan. Entah kenapa perasaan mu menjadi tak karuan saat kata-kata dari bibir nya beberapa menit lalu menyeruak.

“Oh ya… Jebal!! Jodohkan aku dengan nya.. aku merasa tengah mengalami “pandangan pertama” sekarang” ungkap nya menatap mu. Dan kau hanya mengangguk dan tersenyum bodoh membalas nya.

Sedetik kemudian ia tampak memeluk mu dengan senang. Membuat mu merasa lemas dan ingin sekali menghilang saat itu juga. Sakit. Mungkin sahabat mu tak salah. Ia tak salah meminta itu. Ia berhak mengatakan dan memohon itu pada mu. Karena… ia tak tau apa-apa tentang lelaki yang bernama KiBum dan perasaan mu pada lelaki itu. Ia tak tau karena engkau tak pernah mengatakan dan menceritakan nya. Ia tak salah.

*****

Bibir mu terasa keluh. Mata mu terasa panas dan berair sekarang. Mungkin memang kau hanya di ciptakan untuk sebuah kesedihan. Tak pernah merasakan sebuah kebahagiaan walau itu sesaat.

Air mata itu kembali jatuh setelah kedua bola mata mu kembali memproduksi nya. Entah sekarang kau tak bisa mengatakan sepatah ataupun dua patah kata tentang sebuah surat di tangan mu. Sebuah surat yang beberapa menit lalu kau pungut kembali.

Dan dengan jelas mata mu dapat melihat setiap kalimat yang diutarakan dan sebuah inti dari surat tersebut. Kau tampak menatap nanar. Kalimat terakhir yang menjadi inti dari surat itu. “Pertunangan” antara Kibum namja yang sejak lama mencuri perhatian dan perasaan mu dan sesosok sahabat karib mu sendiri.

Itu sudah menjelas kan arti dari  kesedihan dan ke khawatiran mu selama ini.

*****

“wah apa ini kau yang menggambar nya?” sahabat mu tampak berbalik menatap mu. Memegang sebuah kertas yang kau tau pasti bahwa sejak tadi kau sibuk dengan corat coret dengan benda itu.

Kau hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “indah sekali! Aku suka… kau pintar sekali menggabungkan semua nya. Ini bisa jadi baju ideal saat aku bertunangan nanti”

Kembali. Rasa sakit itu kembali datang. Dan untuk entah keberapa kali nya kau mencoba untuk menahan nya. Apa betul kau lah yang sendiri membuat nya seperti ini?! apa betul kau lah biang dari semua kesedihan mu?!

“Ya!!!” kau tampak berbalik menatap nya. Dan ia tampak tersenyum lebar menatap mu. Seakan meminta sebuah permintaan disana.

“boleh kah sketsa ini untuk ku? Aku ingin mengwujudkan gambar ini menjadi kenyataan dan dengan bangga aku akan menjawab bahwa sahabat ku yang paling baik lah yang merancang ini. Bolehkah?”

Kau hanya tersenyum kecut menanggapi. Mengangguk berat. Seakan semua beban yang kau rasakan tengah memupuk di kepala mu itu. Dan sebuah pelukan hangat dari sahabat mu kembali mendarat untuk mu.

Inilah yang kau lakukan untuk membalas semua kebaikan yang telah ia berikan untuk mu. Janji di antara kalian. Janji diantara dua sahabat yang berjanji akan saling membantu dan tak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Janji yang telah dibuat sejak lama. Sejak kalian duduk di bangku taman kanak-kanak. Saat hujan deras tampak turun disalah satu sudut kota Seoul siang itu.

*****

“Nau gwechana?” tanya mu sedikit hosa saat menemukan sesosok gadis kecil seusia mu tampak meringkuk didepan pintu kelas siang itu.

Kau tampak ikut berjongkok dan menatap nya seakan meminta sebuah jawaban. Ia masih diam dan sedikit gemetar. Mata nya tampak dengan cermat melihat butiran-butiran air hujan yang jatuh membasahi tanah di luar sana.

“Gwechanayo?” ulang mu sekali lagi dengan suara sedikit keras dan tentu saja cempreng khas seorang bocah ingusan kala itu.

Dan sukses ia tampak berbalik menatap mu. Menatap mu dengan tatapan bahwa ia sedang takut sekarang. “Omma belum datang menjemput ku.. dan aku kedinginan” jawab nya menatap mu dan dengan cepat ia tampak melempar pandangan nya kembali kearah luar sana.

“tenanglah.. aku juga belum di jemput omma! Ia sepertinya masih sibuk seperti hari-hari kemarin” balas mu dengan senyum ceria. Dan dengan cepat kau tampak melepas sebuah sweeter tebal yang kau kenakan. Menyodorkan nya untuk sesosok gadis yang kau telah anggap seperti saudara mu sendiri.

“pakailah dan ayo kita tunggu bersama-sama” sahabat mu tampak mengangguk. Tersenyum pada mu dan segera memakai nya dengan senang.

“gomawo” ucap nya dan kau hanya tersenyum membalas.

Kalian hanya diam tanpa berbicara banyak disana. Hingga sebuah suara dari sesosok sahabat mu tampak menggema siang itu. Di tengah hujan yang mengguyur Seoul kala itu.

“berjanjilah pada ku bahwa kita akan selalu bersama… saling membantu dalam susah maupun senang. Berjanjilah pada ku. Kita sahabat kan?” tanya nya pada mu. Seakan meminta sebuah persetujuan disana. Dan dengan layak nya gaya khas bocah yang belum paham tentang arti dari “persahabatan” dengan senang hati kau mengangguk. Membalas tautan jari kelingking nya itu dan tersenyum bersama.

Tampak perempuan muda berjalan mendekat. Sahabat mu tampak berdiri dengan cepat begitupun kau. Dapat kau lihat bahwa ia begitu senang. “omma” seru nya gembira.

Perempuan itu tampak menatap mu sebentar dan tersenyum seakan berterima kasih. Kau hanya mengangguk pelan.

“bagaimana dengan ini?” tanyanya pelan menunjuk sweeter milik mu yang ia kenakan.

“pakailah” suruh mu. Ia sedikit ragu tapi kau tetap memaksa untuk ia tetap memakai nya. Dan dengan pelan ia tampak mengangguk dan berpamitan dengan mu. Berjalan pergi bersama Omma nya meninggalkan mu di depan pintu kelas tersebut. Menembus hujan yang masih mengguyur dan hilang di balik pagar taman kanak-kanak tersebut.

Kau tampak mengedarkan pandanga mu kearah penjuru. Tak ada lagi murid selain diri mu kala itu. Kau dengan cepat tampak mengambil duduk disalah satu bangku didekat mu berdiri. Menunggu kehadiran omma maupun appa yang telah berjanji akan menjemput mu cepat hari ini.

Dengan pelan kau tampak berbalik. Menatap sesosok guru yang tampak menghampiri mu. “kau disini rupa nya” ucap nya saat ia menemukan sosok mu kini.

“kajja ikut! Ayo kita menunggu omma mu di ruang bermain seperti biasa. Disana banyak boneka baru yang pasti kau suka… Omma mu akan datang menjemput sebentar sore. Masih banyak waktu yang dapat kau habiskan dengan bermain” ungkap guru tersebut menuntun mu berjalan.

Dan ia tau bahwa kau tampak sedih mendengar nya. Omma dan appa mu kembali mengingkari janji nya untuk datang cepat menjemput mu. Apa mereka terlalu sibuk hingga melupakan diri mu kini?! Entahlah…

Tapi kau masih bisa tersenyum. Masih ada sesosok sahabat mu yang akan menemani hari-hari mu besok. Kalian sudah berjanji satu sama lain.  Tak akan saling meninggalkan, selalu bersama dan selalu ada. Itu janji kalian. Janji yang kau harapkan tak akan pernah pudar sampai di makan oleh masa sekalipun.

“Ours… I and You, my best friend”

******

Ia mungkin tak tau bagaimana menjadi dirimu kini

####

Kau tampak duduk di pinggir bed tersebut. Membuka beberapa lembar album kenangan yang mungkin telah berusia lebih dari 13 tahun sejak album itu di isi saat kau berumur 5 tahun. Kau tersenyum kecut. Menatap setiap lembar yang makin menuju kebelakang makin bertambah usia mu. Album khusus yang Omma mu buat untuk mu dan juga untuk sahabat mu. Album khusus milik kalian.

Senyum,tawa,kejahilan,lucu sampai sedih pun mewarnai tiap lembar album tersebut. Membuat mu sukses detik itu juga kembali menangis. Tak peduli bahwa mungkin mata mu makin membengkak akibat ulah mu sendiri.

Sakit sekali. Selalu bersama selama nya. Dan kau…  selalu akan mengalah untuk sosoknya yang bernotabane sebagai sahabat mu. Seakan ia lah orang yang menurut mu benar-benar penting untuk mu. Seakan kau tak ingin semua nya berlalu begitu cepat.

Dengan pelan kau tampak menutup album tersebut. Membiarkan nya tergeletak disamping duduk mu kini. Kau masih menangis. Mengeluarkan banyak kesedihan yang kau rasakan semakin menghantui mu. Dan yang mungkin bisa kau lakukan sekarang hanya lah menangis dan mengingat kembali semua nya. Semua kenangan yang mungkin pernah terjadi didalam hidup mu.

Dan kau tau pasti bahwa dari sejuta kenangan yang pernah terajut, kau lah yang selalu menderita. Kaulah yang selalu terbelakang. Kau lah yang selalu menjadi peran yang mungkin tak pernah di ingin kan oleh setiap orang dalam sebuah drama.

*****

“untuk ku?” kau tampak menatap tak percaya sekaligus takjub.

Kibum tampak tersenyum menatap ekspresi mu itu. Dan dengan pelan ia mengangguk. Sedetik kemudian kau merasa menjadi orang paling beruntung mungkin saat ini.

Sebuah gelang yang memang menurut mu sederhana dan tak terlalu istimewa. Tapi kau tau pasti ini benda yang paling berharga yang kau terima dari sosok nya. Sesosok namja yang masih betah selalu ada dan menemani mu walau sampai saat ini pun masih belum ada hubungan resmi diantara kalian.

“tapi hari ini bukan hari ulang tahun ku” ungkap mu pada nya. Ia tertawa kecil melihat mu. Dan itu sukses membuat mu menatap nya. Baru kali ini kau melihat nya tertawa. Dan kau tau pasti bahwa ini adalah kejadian yang mungkin langka.

“wae? Kenapa tertawa?” tanya mu menatap nya. Ia hanya menggeleng dan mencoba menarik nafas kemudian menghembuskan nya.

“ani” balas nya singkat.

“pakailah!” pinta nya pada mu.

“khusus untuk mu walaupun hari ini bukan ulang tahun mu” lanjut nya lagi yang mungkin sukses membuat wajah nya merah.

“gomawo” ucap mu pada nya.

=====***=====
“wah neomo yeoppo” kau tampak berjalan mendekat kearah sahabat mu dengan malas saat kau baru saja keluar dari kamar mandi.

“mwoya?”

“ini.. apa ini milik mu?” mata mu tampak membulat saat kini sesosok sahabat mu tampak menunjukkan sebuah gelang dari namja bernama Kibum tersebut.

“Ya!! Ada inisial dari nama mu juga disini” ungkap sahabat mu itu seakan menggoda mu.

“dari siapa?” tanya nya pada mu seakan ingin tau.

“ani” balasmu mengambil nya dan segera memakai nya. Berjalan pelan kearah meja rias dan menyisir rambut mu yang kusut. Ia mengekori mu. Seakan tak puas sama sekali dengan jawaban yang baru saja kau utarakan.

“dari siapa? Apa namjachingu mu yang memberikan nya? Huaaa kau tak memberi tau ku bahwa kau sudah mempunyai namjachingu” ucap nya sedikit manyun. Kau menatap nya aneh.

“aniyo… aku tak mempunyai namjachingu” jelas mu pada nya.

“jinja? Kau bohong” tuduhnya pada mu. Tapi kau membalas nya dengan jawaban yang sama seperti tadi.

Ia tampak menyerah. Sedikit capek dengan adu mulut diantara kalian. “jika benar itu dari seorang namja, aku sungguh iri”

“wae?” tanya mu menatap nya. Menghentikan aktivitas menyisir mu.

“aku juga ingin mendapat kan nya… aku ingin mendapatkan dari Kibum oppa” ungkap nya. Sukses membuat mu terdiam. Ada rasa bersalah dan  juga sakit disana. Apakah kini kau hanya seorang gadis egois?!

Dan dengan cepat kau hanya tersenyum tipis. Mengangguk seakan memberinya sebuah semangat. “tenanglah aku jamin Kibum oppa akan mengabulkan nya” ungkap mu cepat menghibur nya. Walau kau tau bahwa hati mu tak pernah berkata seperti itu.

Ia tersenyum menatap mu. Seakan ia sungguh senang dengan ada nya kau yang selalu menjadi sahabat nya kini.

*****

Kau tampak berjalan pelan menyusur jalan kota Seoul pagi itu. Berjalan pelan menuju taman kota yang tak jauh dari flat mu yang sudah 3 tahun kau tinggali semenjak kau memutuskan untuk tinggal sendiri.

Pakaian tebal tampak membalut mu. Angin musim yang sepertinya akan segera berganti kembali tampak menyapa mu. Meniupkan beberapa hembusan kearah mu. Membuat mu makin mempererat jaket yang tengah kau kenakan sekarang.

Tak jauh disana, kau dapat melihat dengan jelas sesosok namja yang tengah duduk santai disalah satu bangku. Headshet putih pemberian mu ternyata masih ia gunakan sampai detik ini. Kau tersenyum. Berjalan sedikit cepat kearah nya.

Ia tersenyum melihat kehadiran mu. Bergeser sedikit memberikan mu tempat tepat disamping nya. Kau tampak sedikit menunduk. Tak ingin jika sesosok Kibum namja itu menyadari bahwa sebuah “Dark Circle” terpampang jelas di bawah kedua mata mu.

Kurang tidur untuk beberapa hari ini. itulah yang kau lakukan sekarang. Sedikit tak mengerti juga kenapa kau melakukan nya. Bayangan Kibum dan juga sesosok sahabat mu tampak tergiang jelas. Membuat mu seakan tengah di kejar oleh sebuah mimpi buruk.

“Nau gwechana?” tanya nya membuka pembicaraan. Kau menatap nya sebentar tapi dengan cepat kau mengalihkan pandangan mu itu kearah lain. Tak bisa melihat mata nya terlalu lama. Itu sakit.

Kau mengangguk pelan seakan menjawab pertanyaan nya barusan. Ia tampak menghela nafas. “jangan membuat ku khawatir.. aku tau bahwa kau tak baik-baik saja”

“aniyo” balas mu cepat dan tersenyum tipis.

“wae? Kenapa kau masih saja mengkhawatirkan ku? Kita tak punya hubungan apa-apa.. jadi tak usah menganggap ku sebagai beban” lanjut mu kembali. Sukses membuat Kibum tampak menatap mu sedih.

“mianhe” ucap nya membalas.

Kau tersenyum tipis dan mengangguk memaklumi. “kau banyak terluka akhir-akhir ini! harusnya semua nya tak seperti ini” lanjut namja itu sedikit menunduk.

Kau menatap nya cepat. Memegang tangan nya itu dan memberi nya sebuah senyum yang manis. “jangan menganggap ku beban untuk mu! Bukankah kalian akan bertunangan? Aku akan datang! Dan aku  akan menunjukkan pada mu bahwa kau tak perlu lagi mengkhawatirkan ku… bahagia lah untuk ku” ungkap mu tersenyum pahit. Ingin sekali kau menangis saat itu.

“meski kau harus mengorbankan segala nya termasuk perasaan mu untuk orang lain?”

SKATMAT. Kau terdiam. Tak bisa mengatakan banyak sekarang. Ia menatapmu. Menatap mu seakan meminta sebuah jawaban langsung dari bibir mu.

“ani.. bukan begitu. Hanya saja kau lah yang belum mengerti kenapa aku melakukan ini” ungkap mu menatap nya. Menyakin kan diri nya itu atas jawaban mu.

“walau kau lah yang akhir nya ter luka? Kenapa kau tak pernah jujur pada nya?! Bukan kah bukan ini yang kau sebenarnya mau? Mau sampai kapan kau bersembunyi terus dibalik topeng?”

Kau tersenyum masam. Semua itu benar. Semua yang Kibum namja itu katakan benar. Bukan ini yang kau mau. Kau melakukan nya untuk membuat sesosok sahabat mu tersenyum. Kau tak ingin membuat sedih.

“ jangan membuat ku untuk berubah fikiran!” pinta mu pada sesosok Kibum. Mencoba menahan sebuah cairan bening di pelupuk mata nya kini.

Dengan gerakan cepat tanpa kau sadari Kibum tampak menarik mu ke pelukan nya. Seakan tak ingin melepas mu begitu saja. “kita sudah lama dekat tapi kenapa kau lebih memilih mundur dari ku?” tanyanya pelan. Suara nya yang terdengar nanar tak mampu membuat mu untuk bisa bertahan melawan rasa sakit disana.

Air mata mu tampak jatuh. Dan dengan cepat pula tangan nya dengan pelan mengelus puncak kepala mu. “aku tak apa” jawab mu pelan hampir terdengar seperti sebuah bisikkan.

“ini sudah lebih dari cukup” bisik mu kembali tepat di telinga lelaki itu. Air matamu masih tetap jatuh. Merasakan sebuah sakit yang dalam disana.

Mungkin ini menjadi pertemuan mu yang terakhir dengan nya. Sebelum ia benar-benar mempunyai hubungan penting dengan sesosok sahabat mu sendiri. Kau tersenyum miris. Mengingat semuanya. Tentang kau dan dia. Tentang kalian.

OURS….

*****

“bagaimana?” kau tampak sedikit tersentak kaget saat suara dari sahabat mu tampak menyeruak. Membuat mata mu yang mungkin sungguh lelah sekarang menatap nya. Ia tampak berdiri cantik di sudut yang tak jauh dari mu.

Kau hanya tersenyum dan menjawab. “Kau cantik sekali.. pantas sekali kau menggunakan nya” ucap mu.

Sebuah gaun yang terlihat menyerupai gaun pengantin tampak membalut tubuh nya kini. Warna lavender yang sedikit ramping mengikuti lekuk tubuh nya tampak membuat nya seakan menjadi pemain utama puteri di dalam sebuah drama sekarang.

“aigooo.. aku sungguh sangat gugup walaupun ini hanya sebuah pertunangan” kau tersenyum masam mendengar penuturan nya kini. Menatap gaun yang kini tengah membalut nya.

Gaun rancangan mu sendiri. Gaun yang sebenarnya akan kau pakai suatu saat nanti bersama sesosok Kibum namja itu. Gaun yang sebenarnya telah kalian berdua rancang di waktu luang. Gaun rancangan mu sendiri bersama namja itu.

Lagi dan lagi. Kau tampak tersentak kaget saat suara dari sahabat mu tampak menyeru. “aku gugup” keluh nya didepan meja rias. Memperbaiki make up nya yang sedikit luntur. Kau tersenyum tipis. Berjalan kearah nya.

Dengan pelan kau tampak melepas gelang kenangan dari tangan mu itu. Ia tampak menatap mu. Tapi kau hanya tersenyum membalas. “pakailah… anggap saja ini hadiah dari ku untuk pertunangan mu. Jika kau memakai nya, kau tak akan gugup”

Ia tampak menatap mu tak percaya. Sedikit ragu untuk menerima nya. Tapi kau tetap berusaha untuk menyodorkan nya. Dan sedetik kemudian kau tampak menarik tangan nya. Memakai kan nya sendiri di tangan nya itu. Ia sedikit tak percaya saat gelang itu telah terpasang manis di tangan nya kini.

“cantik.. penampilan mu sempurna” ungkap mu menatap nya dengan senyum. Ia tersenyum sedetik itu tampak memeluk mu seperti biasa.

Kau membalas pelukan nya. Menepuk-nepuk belakang nya kini. Menutup mata mu sebentar. Menahan rasa sakit yang tiap kali hadir bagai sebuah mimpi buruk untuk mu. Tak peduli mungkin make up mu  akan luntur akibat air mata mu sendiri. Tapi… ini terlalu sakit dan sulit untuk kau rasakan sendiri.

“kau menangis?” sahabat mu tampak menatap diri mu kini dengan tatapan khawatir. Tapi dengan cepat kau menggeleng dan sedikit tertawa.

“aku terlalu senang” balas mu. Dan sebuah senyum dari bibir nya tampak mengembang. Kembali memeluk mu seakan tak ingin jika memang akan berpisah.

*****

Kau tampak mengantar sesosok sahabat mu berjalan keluar. Menemui beberapa teman kalian di luar sekaligus memulai acara pertunangan tersebut. Dapat kau lihat dengan jelas sesosok Kibum tampak berdiri tegap didepan. Tepat disamping appa dari sahabat mu itu. Ia tampak gagah dengan tuxedo hitam yang ia gunakan.

Kau tersenyum pahit saat pandangan kalian bertemu. Tapi kau telah janji pada nya untuk membuktikan bahwa kau tak apa.

Dengan pelan kau tampak berjalan kearah sahabat mu kini. Mengekori nya dari belakang. Telah berjanji pada nya bahwa kau akan menemani nya tepat disamping nya saat acara pertunangan nya itu berlangsung.

Tiba di depan kau tampak menunduk dalam diam. Menghela nafas berat. Kibum tampak menatap mu. Seakan tak tega jika kau harus tetap berdiri disana. Ia mungkin tau bahwa kau tak akan sanggup melihat nya. Melihat dengan detail bagaimana saat pemasangan cincin diantara ia dan sahabat mu sendiri berlangsung.

Kau tersenyum menatap. Melihat sesosok Kibum tampak mengeluarkan sebuah cincin disana dan memakai kan nya tepat di jari manis sahabat mu itu. Kau tersenyum nanar. Menahan sebuah tangis yang bisa meledak seketika itu.

Pas. Cincin itu pas di jari manis sahabat mu. Dengan cepat sahabat mu tampak memakaikan cincin yang ia bawa untuk sesosok Kibum tersebut. Ia tampak memakaikan nya dan tersenyum ceria.

Dan sedetik itu kau tau bahwa sesosok Kim Kibum kini bukan lagi pangeran mu. Bukan lagi sesosok yang selalu menemani mu nanti nya. Ia telah menjadi sesosok lelaki untuk sahabat mu sendiri. Sesosok yang akan menjadi orang kedua yang mengkhawatirkan sahabat mu setelah kau.

“Ya!!” kau tampak seperti gadis yang tengah linglung. Tersentak kaget saat suara sahabat mu menggema memanggil mu. Kau tampak menatap.

“Wae?” tanya mu pelan.

“nyanyikan sebuah lagu untuk ku dan juga Kibum!” pinta nya terlihat manja. Kau tampak tersenyum tipis. Seakan tak bisa menahan kesedihan yang tengah merasuki mu saat ini.

Kibum namja itu tampak menatap mu. Seolah meminta mu untuk tidak mengabulkan nya. Ia mengkhawatirkan mu dengan sebuah senyum palsu di balik wajah nya itu.

Sedetik kemudian kau tampak mengangguk menyetujui. Dan dengan cepat pula pelukan khas dari sahabat mu tampak menyerbu diri mu. Kau tersenyum membalas walau kini kau tau bahwa pandangan mu tampak mengabur akibat ulah mu sendiri.

Dengan pelan kau tampak berjalan menjauhi mereka. Menuju sebuah grand piano di sudut ruangan tersebut. Berniat untuk memberikan sebuah sumbangan lagu di hari bahagia antara lelaki yang sejak dulu kau sukai dan sahabatt mu itu.

Jemari-jemari lentik milik mu tampak bermain lancar di atas piano tersebut. Menjadi sebuah perhatian di antara tamu undangan lain. Sebuah lagu yang kau sukai tampak mengalun. Lagu yang menyimpan banyak kenangan antara kau dan juga banyak orang yang kau anggap sungguh sangat menyayangi mu. Lagu yang kini kau persembahkan untuk 2 orang yang tampak menatap mu dengan sebuah senyum ceria. Kau tersenyum membalas. Walau kau tau bahwa hati mu sudah terlanjur sungguh sangat sakit sekarang.

Ours…..

 

Seems like there’s always someone who disapproves
They’ll judge it like they know about me and you
And the verdict comes from those with nothing else to do
The jury’s out, my choice is you

 

[Sepertinya selalu ada seseorang yang menyetujui
Mereka akan menilai seperti mereka tahu tentang Aku dan Kau
Dan sebuah vonis berasal dari mereka dengan apa lagi yang bisa ku lakukan
Juri pun keluar, Pilihan ku adalah Kau]

 

So don’t you worry your pretty little my mind
People throw rocks at things that shine
And life makes love look hard
The stakes are high, the water’s rough
But this love is ours

 

[Jadi jangan khawatir pada pikiran kecil milik ku
Orang-orang melemparkan batu pada hal-hal yang bersinar
Dan kehidupan membuat cinta terlihat sulit
Taruhannya tinggi
Tapi cinta ini adalah milik kita]

 

You never know what people have up their sleeves
Ghosts from your past gonna jump out at me
Lurking in the shadows with their lip gloss smiles
But I don’t care ’cause right now you’re mine

 

[Kau tidak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka
Hantu dari masa lalu mu akan melompat keluar pada ku
Mengintai dalam bayang-bayang dengan senyum dari bibir mereka
Tapi aku tidak peduli karena sekarang kau milikku]

 

And it’s not theirs to speculate
If it’s wrong and
Your hands are tough
But they are where mine belong and
I’ll fight that doubt and give you faith
Finnaly this song for you

 

[Dan mereka tidak berspekualisasi
Jika itu salah dan
Tangan  Mu sulit
menggapai tambang milik mereka
Aku akan melawan keraguan dengan memberikan kekuatan….
Akhir nya  lagu ini untuk Mu]

 

Ours…..
[Kita….]

You and Me
[Kau dan aku]

Your story and me
[Ceritamu dan aku]

 

And Can I saying, Ours forever?!
[Dan bisa kah Aku bilang, Kita Selamanya?!]

*****

Kau tampak berjalan pelan keluar gedung pekarangan tersebut. Dengan sebuah tisu yang kini berada di genggaman mu. Kau tampak menunduk. Menyembunyikan semua kesedihan mu di balik poni yang menutupi wajah mu itu. Berkali-kali kau menghembuskan nafas berat. Berjalan cepat mencari mobil yang kau parkir tak jauh dari halaman utama.

Langkah mu makin cepat saat kau menemukan mobil yang sejak tadi kau cari dan dengan cepat menaiki nya.

Hening. Hanya hening yang dapat kau rasakan saat kau tepat berada didalam mobil milik mu. Terdiam sebentar memikirkan sesuatu. Kau tersenyum kecut dan akhirnya tangis mu kembali meledak. Menangis sejadi-jadi nya disana. Mengeluarkan yang sejak dulu kau khawatirkan. Semua nya terjadi. Begitu cepat tanpa kau sadari. Dan itu sakit.

Tangan mu bergetar memegang setir itu. Menggenggam nya dengan kuat. Dan sedetik itu kau tampak berteriak frustasi. Mungkin percuma kau melakukan hal itu sekarang. Tak ada gunanya.

Wajah mu tampak kau tenggelam kan di antara kedua tangan mu. Menangis dalam diam merasakan sebuah kesedihan disana. Apakah memang kau hanya di ciptakan untuk sebuah kesedihan?!

Dengan pelan kau tampak menyalakan mesim mobil tersebut. Menyetir keluar dari pekarangan tersebut. Menuju sebuah tempat yang kau yakin akan menenangkan diri mu sesaat dari rasa sakit dan kenyataan yang melanda mu.

****

Tidak mungkin aku berbalik

 

Semua telah menjadi bubur

 

Apa yang harus ku Perjuangkan?

 

Tak Ada

 

Tak ada lagi yang bisa ku Perjuangkan untuk Cinta

 

####

City Park Seoul. Kau tampak berjalan menyusur masuk setelah memarkirkan mobil milik mu di seberang jalan sana. Masih lengkap dengan sebuah gaun sederhana yang membalut tubuh mu. Gaun yang sahabat mu pilihkan untuk mu di hari bahagia milik nya. Dan dengan senang hati kau memakai nya hari ini.

Keputusan yang mungkin benar bagi mu untuk meninggalkan pesta pertunangan tersebut lebih cepat setelah kau mempersembahkan sebuah lagu khusus kesukaan mu untuk mereka. Lagu yang menunjukkan bahwa kau ingin mengungkapkan segala nya. Tentang kalian. Segala hal tentang kalian. Kau dan Dia. Ours…

Dengan pelan kau tampak duduk disalah satu bangku. Menunduk membiarkan mata mu yang entah mungkin sekarang tengah bengkak kembali memproduksi cairan bening itu kembali. Kau tampak mengusap nya saat cairan itu turun. Menyematkan sebuah senyum masam disana.

“apa inikah sebuah akhir yang kau ingin kan?”

Sebuah suara yang kau tak tau pasti tampak menggema. Menyapa mu dan sukses mengalihkan pandangan mu kini. Mata mu tampak menangkap sesosok itu tak percaya.

“oppa” gumam mu.

Namja itu tersenyum. Duduk di samping mu menatap mu yang mungkin terlihat sungguh konyol sekarang. Sungguh cengeng.

“betulkah ini sebuah akhir yang kau ingin kan?” ulang nya kembali menatap mata mu yang terlihat bengkak dan lelah. Jemari nya tampak terangkat dan mengusap mata mu yang masih saja mengeluarkan air mata disana. Ia tersenyum menatap.

“Jangan menangis jika memang ini yang kau ingin kan.. mengorbankan segala nya tanpa memikirkan dan memperjuangkan diri mu sendiri” ungkap nya yang sukses membuat mu tersenyum pahit.

“naega pabbo” balas mu dan berusaha tertawa. Tapi namja itu tetap diam. Menatap mu seakan bukan inilah yang harus lah kau lakukan.

Dengan pelan ia tampak mengeluarkan sesuatu di balik jaket milik nya dan sukses membuat mu ternganga tak percaya. Namja itu tersenyum.

“belum kau selesaikan sampai akhir.. tapi aku sudah menyelesaikan nya dan ku hadiahkan untuk mu” ucap nya menarik tangan mu. Memberikan mu sesuatu yang sangat kau tau itu apa.

Sketsa. Sebuah kertas skesta. Sketsa beberapa tahun lalu antar kau dan dia. Sketsa kenangan yang kalian buat untuk beberapa tahun kedepan saat itu. Sebuah gambar gaun yang kalian berdua rancang untuk kau kenakan suatu saat nanti.

“bisakah aku kembali belajar?”

“belajar mencintai dan menjaga diri mu kembali… hubungan kita belum selesai saat itu…” kau terdiam menatap nya. Bingung dengan reaksi dan jawaban apa yang harus kau berikan untuk lelaki itu.

5 tahun lalu. Jauh sebelum kau mengenal sesosok namja yang bernama Kim Kibum tersebut. Sesosok lelaki bernama Park SangHyun datang. Datang kedalam kehidupan mu dan menawari mu sebuah cinta disana. Dan dengan senang hati aku menerima nya. Tapi semua berubah saat kalian tak lagi sepaham. Banyak perbedaan yang datang dan memberikan jarak diantara kalian hingga sesosok Kibum datang menemani mu tapi tanpa sebuah hubungan disana. Kau masih ragu untuk melanjutkan nya lebih jauh bersama sesosok Kibum karena kau tau bahwa hati mu masih terkunci oleh lelaki bernama Park Cheondoong tersebut.

Kim Kibum dan Park SangHyun. 2 orang yang datang secara bergantian kedalam kehidupan milik mu. Banyak yang terjadi. Berjanji pada mu akan terus bersama. Begitupun sahabat mu. Mengucapkan berkali-kali kata “Ours” untuk mu. Seakan memberikan sebuah janji yang paten disana. Tapi bagaimana jika semua berbalik dan tak terwujud? Bisakah kau tetap bertahan didalam situasi tersebut?!

Kau terdiam menyimak beberapa kalimat yang di ucapkan lelaki yang bernama SangHyun tersebut. Meminta kepada mu agar diri nya dapat belajar kembali mengenal mu. Sama seperti dulu?! Menghapus segalanya…

Dengan pelan tangan nya tampak menepuk-nepuk belakang mu pelan. Seakan memberi mu sebuah semangat disana. “aku akan berjanji bahwa aku akan mengwujudkan semua yang terebut dari mu”

“gaun ini akan segera menjadi nyata untuk mu.. aku harap semua akan terwujud sesuai keinginan mu dulu”

“Now.. Ours. You and Me. My story and you will start back”

Kau tersenyum mendengar kalimat itu. Kalimat yang pernah tenggelam jauh di dalam relung hati mu. Seakan putus asa saat kalimat itu tak memiliki bukti yang lebih kuat. Tapi entah apa yang merasuki mu sekarang. Pelukan hangat lelaki itu seakan menjadi sebuah bukti pertama untuk mu.

Dan….. air mata mu kembali jatuh. Bukan untuk kesedihan. Tapi awal dari sebuah kebahagiaan disana.

 

Ours

 

Mungkin Ya Aku memang diciptakan untuk Mengalah dan Kesedihan

 

Mengujiku untuk mengalah pada Seorang

 

Tapi,

 

Bukankah disetiap akhir cerita,

 

Sang Itik kembali menemukan kebahagiaan?

 

Tuhan mungkin tidak adil dalam satu sisi

 

Tapi, Ia adil dalam satu sisi lain nya

 

Aku Percaya ia akan memberikan ku kebahagiaan di akhir cerita

 

Aku Percaya itu

*****

-OURS- OneShoot ENDING

*****

hehehhehe :DDD
Author disini!!!

hmmmm gimana?! Jelek?! *tau kok*
Ini ide mendadak. Jadi maklum ajh klu rada sesuatu banget *_*v sumpah klu boleh di bilang, gaje bnget inti cerita nya -__-v

Aneh?! Mian yaaaa >.<v)

NEXT!!!

COMMENT mana COMMENT~
LIKE mana LIKE~

hahahahhaa :DD
wokeh udah bingung mau bacot apalgi =..=) yg jelas semoga terhibur dikit ya dengan ff nya :p

Oh iya, sebelum nya GOMAWO untuk yeppopo eonnie yang udah mem-post cerita saya *bow* dan NADO untuk yang udah bersedia READ ff ini!! ^^b

~KAMSHAMNIDA CHINGUDEUL-AH~

Buat kalian mau baca ff yang lain, tinggal cari aja di kategori fan fiction, seru2 loh 🙂

BY :  Choi Minra

Iklan

7 comments on “(Fan Fict) OURS -One Shoot

  • kerennnn.. sukses besar bikin mewek.. T.T
    Plot ceritanya teratur,bahasanya puitis, endingnya gak ketebak, tapi mirip2 my best friend wedding, konfliknya dapet,detail ceritanya mantap kita jadi bisa ngebayangin situasi yg dialami tokohnya…
    kata2 endingnya JLEB banget… 2 jempol buat writernya ヽ(^。^)ノ

  • nyesek sumpah rasa’a gw yg sakit loh heheheheehehehee nyangkut d’kerongkongan gw ckckckckckcckkkk sukses nih FF bikin gw mengharu biru

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: